Wednesday, August 31, 2011

Saturday, August 06, 2011

Mentalitas Elang (Karya Eileen Rachman & Sylvina Savitri)


Seorang pegawai yg baru saja dinobatkan sebagai the best employ utk kesekian kalinya tiba-tiba dipanggil atasan dan mendapat vonis yang membuat ia shock, yaitu dibebastugaskan dari posisinya dan dimintai standby utk penugasan berikutnya. Pada saat ia berharap diganjar promosi atas prestasinya yang baik, kenyataayang terjadi malah sebaliknya. Pada saat rekan lain berprestasi mendpt jabatan baru, ia malah merosot. Siapa yg tak terpuruk menghadapi kenyataan seperti itu?

Sangat wajar kita frustasi menghadapi keadaan seperrti itu. Dalam situasi seperti ini tdk jarang kita menyalahkan kebijakan dan peraturan yang ada. Kita menyalahkan atasan, menyalahkan keadaan dan pembenaran diri lainnya. Bahkan terkadang, kita berhenti berkarya dan tiidak melakukan sesuatu. Tidak banyak dari kita yang memberi batas waktu pada masa meratapnya, melakukan kajian atas kelemahanyang dimilikinya disamping kekuatan yang ada dalam dirinya dan melakukan perbaikan atas kelemahannya tersebut. Yang sedikit ini memiliki mentalitas seperti seekor elang. Pada saat merasa bulu2nya tidak kuat lagi, elang kan berdiri tegak disebuah batu karang tempat angin kencang merontokkan bulu-bulunya. Sesudan itu, ia akan bersembunyi diantara batu-batu dan menunggu sampai bulu-bulu baru tumbuh kembali.

Badai baik karir atau ekonomi bisa dialami siapa saja, dan hal ini tidak kita sukai. Bagi elang hewan pemangsa berdarah panas yang mempunyai sayap dan tubuh diselubungi bulu pelepah, badai dianggap "kendaraan" untuk maju. Ia bisa terbang sama cepat untuk maju, sehingga akhirnya angin badai mengusung dirinya utk terbang lebih tinggi lagi. Dalam dunia kerja, bisnis atau kehidupan sehari-hari, kita tahu bahwa kemampuan untuk "terbang tinggi" memberi kita kesempatan utk melihat situasi dari atas, sehingga kita memiliki visi yang lebih jelas dan kuat.

Tentu tdk mudah mengubah paradigma, padahal seninya terletak pada pengaturan energi dan menjaga kestabilan kekuatan justru pada saat orang lain at au kompetitor kehabisan napas atau bahkan sudah tak berniat mengejar lagi. Banyak dari kita terpaku pada kelemahan diri (weakness), atau ancaman (threat) yang ada disekitar kita. Keinginan untuk maju atau melakukan langkah terobosan tidak jarang terhambat karena kita sudah dipenuhi kekhawatiran tidak bisa bersaing atau berkompetisi.

Menganalisa kelemahan memang perlu tetapi yg lebih pentinng adalah mengidentifikasi dan mengfokuskan kekuatan diri dan peluang yg bs menghasilkan energi dan daya dorong bagi diri kita. Seperti elang, sebaiknya terobsesi pada kesempatan demi kesempatan yang ada. Bila dulu kita akrab dengan istilah SWOT analysis (Strength-Weakness-Opportunity-Threat), kita juga perlu mulai berlatih untuk berpikir dengan konsep SOAR* (Strength-Opprtunity-Aspiration-Result).

Konsep yang berorientasi pada penggalian hal-hal positif dan kekuatan yang terlihat maupun tersembunyi dalam diri kita. Penggagas konsep ini berpendapat "Allow your thoughts to take you to the heights of greatness". Dengan pola pikir ini kita mengisi diri kita dengan obsesi terhadap aspirasi dan kesempatan, sehingga dengan sendirinya akan membawa kita dipenuhi optimisme untuk maju. (Dicatat ulang dari Hal 33 Kompas 6 Ags 2011, karya Eileen Rachman & Sylvina Savitri dari EXPERD)
_____________________

Artikel diatas menjadi masukan buat saya pribadi, mengingat kondisi lingkungan kerja yang sedang bertransformasi secara besar-besaran dan membuat sebagian besar rekan risau dan khawatir terkena dampaknya. Tetapi pemicu aku menulis ulang artikel ini karena teringat film “Larry Crowne” yang di bintangi Tom Hanks dan Julia Roberts. Film yang ringan dan menghibur meski tidak sedahsyat Pretty Woman atau Sleepless in Seattle, tetapu tetap enak utk ditonton karena ceritanya yang ringan, parade vespa yang unik, lagu-lagu yang bagus, riang dan akting Gugu Mbatha-Raw yang menawan. Awal cerita, seperti nasib pegawai diparagrap pertama artikel ini, alih-alih frustasi dan terpuruk, Crowne (Hanks) yang dipecat menyadari kekurangannya dan berusaha keras memperbaiki kekurangan itu. Larry Crowne, memilki mentalitas elang !
___________________

*) SOAR dpt juga berarti melayang/terbang tinggi, Konsep ini dipopulerkan oleh Stavros, Cooperrider dan Kelly.

"daripada mengutuk kegelapan, lebih baik cari teman ngobrol sambil menunggu mentari pagi terbit..."

[Ditulis diatas pesawat GA655 Bpp-Jogja, 6Agustus2011, 08:00 Wita]

Tuesday, May 24, 2011

Teladan Ayah Arun Gandhi


Dr.Arun Gandhi, cucu mendiang Mahatma Gandhi bercerita, pada masa kecil ia pernah berbohong kepada ayahnya. Saat itu ia terlambat menjemput ayahnya dengan alasan mobilnya belum selesai diperbaiki, padahal sesungguhnya mobil telah selesai diperbaiki hanya saja ia terlalu asyik menonton bioskop shg lupa akan janjinya.

Tanpa sepengetahuannya sang ayah sudah menelpon bengkel lebih dulu shg sang ayah tahu ia berbohong.

Lalu wajah ayah tertunduk sedih;sambil menatap Arun sang ayah berkata,"Arun,sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ayah dalam mendidik dan membesarkan kamu,sehingga kamutidak punya keberanian untuk berbicara jujur kepada ayah.Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki;sambil merenungkan di mana letak kesalahannya"

Dr.Arun berkata: Sungguh saya begitu menyesali perbuatan saya tersebut. Sejak saat itu seumur hidup,saya selalu berkata jujur pada siapapun.

Seandainya saja saat itu ayah menghukum saya, mungkin saya akan menderita atas hukuman itu,dan mungkin hanya sedikit saja menyadari kesalahan saya.Tapi dengan tindakan mengevaluasi diri yang dilakukan ayah,meski tanpa kekerasan,justru memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah diri saya sepenuhnya.

Monday, April 18, 2011

To DMK : My deepest condolences to you ...

“If the people we love are stolen from us, the way to have them live on is to never stop loving them. Buildings burn, people die, but real love is forever.”

The Crow (1994)




Tips Wisata ke Tibet



Ke Tibet
Perjalanan ke Tibet mungkin kedengaran ribet pada awalnya. Informasi kadang seperti bertentangan dari satu agen perjalanan ke agen lainnya dan bahkan agen mengatakan hal yang berbeda. Informasi yang saya tulis cukup valid dan digunakan sampai Januari 2011. Jika ada perubahan, saya akan mengupdate informasi ini.

Ijin Perjalanan
Semua orang asing yang datang ke Tibet, harus melalui agen perjalanan yang didapat sebelum tiba di Lhasa. Tidak seperti dulu dimana orang datang ke Lhasa tanpa harus melalui agen perjalanan dan dapat melanjutkan perjalanan ke Base Camp Everest, sekarang semua orang asing harus memiliki: izin TRAVEL PERMIT masuk Tibet, pemandu wisata , kendaraan pribadi dan sopir jika hendak ke luar Lhasa (jika Anda hanya tinggal di Lhasa, tidak perlu kendaraan Pribadi). Anda tidak diijinkan ke Tibet jika tidak melalui agent perjalanan (travel agent). Ketika ada yang mengatakan ke Tibet tidak perlu agent perjalanan, waspadalah hal tersebut tidak benar.

Anda harus menghubungi agen perjalanan sekurang-kurangnya 3 atau 4 minggu sebelum Anda tiba di Lhasa. Ini akan memberi Anda cukup waktu untuk menyusun rencana perjalanan Anda serta agen untuk mengurus izin perjalanan. Anda harus mencantumkan detail perjalanan ketika ke Tibet. Anda tidak boleh mengganti jadwal dan route perjalanan anda ketika di Tibet yang berbeda dengan Travel permit awal. Agen perjalanan dapat mengurusnya sebelum anda tiba di Tibet sehingga anda tidak perlu menunggu terlalu lama Cina. Untuk hal ini, semua travel agent besar di Indonesia sanggup mengurus ijin tersebut.

semua turis asing harus mendapatkan Tibet Travel Permit (TTP) yang dikeluarkan oleh Biro Pariwisata Tibet (Tibet Tourism Biro dikenal dengan TTB). Anda tidak bisa mendapatkannya di Kedubes atau Konsulat Cina di Indonesia. TTP bukanlah visa dan tidak dicap di paspor. TTP adalah dua lembar kertas yang berisi daftar nama lengkap Anda, kewarganegaraan, umur, nomor paspor dan jadwal perjalanan Anda saat di Tibet. Ada stempel TTB dihalaman depan dan keterangan serta lisensi agen perjalanan yang membawa anda. Perizin ini diurus oleh biro perjalanan Anda. Anda tidak akan pernah mendapatkan izin ini kalau mengurus tanpa melalui travel.

Ijin berikut yang dibutuhkan adalah Alien Travel Permit (ATP) yang dikeluarkan oleh Public Security Biro (unit kepolisian yang berhubungan dengan turis asing). Jika Anda berencana untuk melakukan perjalanan di luar area Lhasa-Shigatse anda akan membutuhkan ijin ini. Hubungi agen perjalanan anda untuk mengetahui daerah mana saja (diluar Lhasa) yang membutuhkan ATP.

Izin ketiga yang mungkin Anda butuhkan adalah sebuah Izin Militer (Military Permit). Jika anda berencana untuk bepergian ke Gunung Kailash, jalan darat ke Kashgar atau Nyingtri atau daerah Chamdo, Anda akan membutuhkan Ijin Militer. Izin ini diperlukan karena batas Daerah Otonomi Tibet beberapa diantaranya adalah daerah sensitif dan sedang diperdebatkan dengan India. Izin ini dikeluarkan di Lhasa oleh otoritas militer. Sekali lagi, biro perjalanan Anda akan tahu jika Anda perlu ijin ini atau tidak dan akan mengurus perijinan anda apabila dibutuhkan.

Izin lain yang kadang-kadang diperlukan di daerah yang sangat terbatas di Tibet adalah Ijin Luar Negeri (Foreign Affairs Permit). Seperti izin di atas, agen perjalanan Anda akan mengatur ini untuk Anda jika Anda membutuhkannya.

Mengurus Perijinan
Anda perlu untuk memindai (scan) dan meng-email paspor serta visa Cina ke biro perjalanan anda untuk mengurus perijinan sebelum Anda tiba di Cina (Anda juga dapat mengatur tur ke biro perjalanan ketika anda tiba di Cina, tetapi ini akan membuat Anda menunggu beberapa hari untuk mengurus perizinan, tentunya ini membuang waktu anda. Kebanyakan orang memilih untuk mengurus terlebih dahulu sebelum tiba di Cina agar tidak terlalu lama menunggu.

Izin Perjalanan ke Tibet biasanya memakan waktu 3 sampai 5 hari. Ijin tersebut kemudian dikirimkan ke alamat hotel anda atau melalui email sehingga Anda dapat mencetak dan menggunakannya. Jika anda berencana untuk mengambil penerbangan ke Lhasa, bersikeras bahwa dokumen aslinya dikirimkan kepada Anda sebagai Anda bisa memiliki masalah ketika mencoba untuk naik pesawat hanya dengan salinan izin tersebut. Orang-orang memegang visa wartawan biasanya tidak diizinkan untuk melakukan perjalanan ke Wilayah Otonomi Tibet.

Ketika menggunakan pesawat ke Lhasa, anda membutuhkan ijin yang asli (bukan hasil pindai).
Izin hampir selalu diperiksa saat menggunakan kereta api ke Lhasa dan selalu diperiksa saat naik pesawat ke Lhasa. Tanpa izin, Anda tidak akan diizinkan untuk penerbangan atau menggunakan kereta ke Lhasa. Sangat sulit masuk ke Tibet tanpa izin dan akan lebih sulit untuk menginap di hotel tanpa izin tersebut. Turis asing akan dimintai ijin dan pasport saat hendak menginap di hotel-hotel di Tibet..

Memasuki Tibet
Ada beberapa cara untuk memasuki Tibet. Cara yang paling umum sekarang adalah naik kereta api ke Lhasa. Saat ini ada jadwal kereta api setiap hari ke Lhasa dari Xining, Lanzhou, Chengdu, Beijing, Shanghai dan Guangzhou. Selain itu, kereta api melewati banyak kota-kota sepanjang jalan menuju ke Tibet. Tiket Kereta untuk wisata musim panas , ketika musim liburan biasanya susah diperoleh. Untuk tujuan aklimatisasi, Xining adalah pilihan terbaik untuk naik kereta dari posisi ketinggian 2300m di atas permukaan laut. Itu juga merupakan kota besar terdekat ke Lhasa.

Cara lain yang populer menuju Lhasa adalah menggunakan pesawat. Ada penerbangan setiap hari ke Lhasa dari Chengdu, Xi'an, Beijing, Shanghai, Guangzhou, Chongqing dan kota-kota besar lainnya. Chengdu menawarkan penerbangan setiap hari ke Lhasa setidaknya 6 sampai 10 penerbangan per hari. Dimungkinkan juga naik bus dari Golmud ke Lhasa, meskipun tidak banyak orang asingyang memilih opsi ini. Ageb Perjalanan di Golmud terkenal memiliki reputasi buruk karena sering menaikkan harga.Yang perlu diingat, naik bus sangat tidak nyaman.

Transportasi di Tibet
Saat di Tibet, ketika akan bepergian anda harus menggunakan kendaraan pribadi dan sopir yang akan diurus oleh agen perjalanan. Kecuali jika Anda hanya tinggal di area Lhasa. Anda dapat menggunakan taksi atau bus umum untuk bepergian sendiri jika anda tinggal di Lhasa. Jika Anda berencana bepergian ke luar Lhasa, Anda akan menggunakan Toyota Land Cruiser. Kondisi jalan di Tibet saat ini telah membaik selama 10 tahun terakhir, namun Land Cruiser masih merupakan kendaraan yang paling umum digunakan untuk tur. Jika Anda melakukan perjalanan dengan kelompok yang lebih besar, dimungkinkan melakukan perjalanan dengan bis atau minivan tergantung usia kendaraan dan kondisi jalanan.

Pemandu (Tour Guide)
Orang asing harus memiliki pemandu wisata saat di Tibet, termasuk Lhasa. Tidak ada pengecualian untuk ini. Sementara di Lhasa, pemandu akan menemani selama 3 sampai 5 jam setiap hari dan kemudian meninggalkan Anda untuk berjalan sendiri. Bila Anda bepergian ke luar Lhasa, pemandu Anda akan menemani Anda dalam kendaraan yang sama selama tur. Sayangnya, pemandu wisata di Lhasa terkenal malas dan jelek pelayanannya. Sering diperoleh pemandu yang hanya mengetahui sedikit wilayah yang akan dikunjungi serta lebih banyak tidur di kendaraan dan tidak cakap bahasa Inggris. Tidak semua pemandu seperti ini ... Ada banyakpemandu yang sangat baik di Lhasa. Tapi, karena Lhasa sekarang menjadi tujuan wisata utama (lebih dari 5 juta wisatawan domestik dan asing berkunjung ke Tibet pada 2010), sehingga banyak pencari kerja yang menjadi pemandu dengan kemampuan yang minim. Pastikan agen perjalanan anda memberi pemandu yang baik, apabila tidak minta kompensasi pengembalian uang anda.

Pesan Hotel

  • Kebanyakan warga Tibet memiliki relasi yang memiliki hotel di Lhasa ... mulai dari budget, hotel backpacker sampai ke hotel bintang 4 dan 5. Jika Anda tahu hotel tertentu, Anda ingin tinggal, mengatakan ke agen perjalanan dan mereka akan memesannya untuk Anda. Jika Anda tidak tahu hotel mana Anda inginkan, katakan jenis hotel yang Anda cari, misalnya kelas hotel, biaya per hari dan suasana yang diinginkan dan agen perjalanan akan mencarikannya untuk anda. Pada musim turis, segera pesan hotel jauh-jauh hari. Kebanyakan hotel di Tibet tidak memiliki website atau dipesan secara online. Di daerah-daerah di luar Lhasa, anda tidak perlu melakukan pemesanan hotel. Biasanya, kota-kota kecil ini hanya memiliki beberapa pilihan akomodasi yang umumnya memiliki kamar kosong pada saat anda tiba.


Makanan
Anda dapat meminta agen perjalanan untuk mengatur semua makanan Anda. Tetapi saran saya sebaiknya anda mencari makan sendiri. Dengan cara itu Anda dapat memilih makanan apa yang ingin Anda makan dan untuk memastikan bahwa Anda tidak membayar lebih mahal untuk makanan tersebut.

Biaya masuk tempat wisata
Anda akan perlu berkoordinasi dengan agen perjalanan Anda tentang besar biaya masuk ke kuil, biara dan taman apakah termasuk dalam pakt wisata Anda. Saran kami, tidak perlu memasukkan semua dalam paketwisata Anda. Dengan begitu, Anda dapat memutuskan mana tempat yang ingin Anda kunjungi dan mana yang tidak. Jika Anda memasukkannya dalam paket wisata dan anda tidak mengunjungi tempat tersebut anda tentu akan rugi.

Deposit dan Biaya Pembatalan
Kebanyakan agen perjalanan mengharuskan Anda membayar minimal deposit sebesar 10% sampai 50% di depan sebelum mengurus segala perijinan dan paket wisata. Pembayaran dapat dilakukan dengan kartu kredit, transfer bank atau Western Union. Pastikan dengan agen perjalanan apabila ada pembatalan oleh mereka, uang anda akan dikembalikan. Jangan lupa ditanyakan prosedur pengembalian jika Anda sakit selama perjalanan dan tur diakhiri lebih awal. Kebanyakan lembaga harus menawarkan setidaknya beberapa pengembalian untuk tur yang harus berakhir lebih awal karena sakit.

Travel Agency Yang Anda Pilih
Memilih agen perjalanan dengan reputasi yang baik itulah kuncinya Menjadi Turis yang baik adalah penting. Sebagian besar orang menggunakan agen perjalanan yang berbasis di Xining, Chengdu dan Beijing. Umumnya semakin jauh agen perjalanan anda dari Lhasa,semakin mahal biayanya. Xining dan Chengdu adalah yang lebih murah untuk mengatur kunjungan ke Tibet dibandingkan Beijing, Shanghai dan Guangzhou. Paket Wisata ke Tibet oleh agen di luar China akan menjadi jauh lebih mahal. Menggunakan agen perjalanan di Lhasa biasanya merupakan pilihan termurah. Saya sarankan menggunakan agen perjalanan yang dimiliki orang Tibet untuk memastikan bahwa uang Anda bermanfaat secara langsung ke orang-orang Tibet.

Monday, April 11, 2011

Tibet di Otak *

*) Ini judul buku cerita perjalanan dan kumpulan foto tentang Tibet karya para seniman : Yori Antar, Raudia Kepper, Enrico Soekarno, Jay Subyakto, Krish Suharnoko dan Ella Ubaidi

Sebelumnya mohon maaf kepada para pengarang buku diatas karena saya menggunakan judul buku mereka di blog ini. Ke depan saya mungkin akan banyak menulis tentang Tibet karena saya punya keinginan kuat ke sana dan yakin suatu saat saya akan mengunjungi negeri 'impian' bagi para pengembara.

Kapan tepatnya keinginan itu muncul saya kurang tahu, yang jelas sejak kecil saya menyukai cerita tentang perjalanan para pelancong dan pengelana. Mungkin dimulai dari kisah-kisah Tintin yang salah satunya berjudul Tintin di Tibet, kemudian membaca petualangan Sir Edmund Hillary dan Sherpa Tenzing Norgay menaklukan Himalaya membuat alam bawah sadar saya ingin melihat Himalaya. Menyaksikan Kundun, Seven Years in Tibet, Vertical Limit, majalan National Geographic dan Channel TV National Geographic membuat keinginan semakin kuat.

Mengutip pendapat seniman diatas, perjalan ke Nepal dan Tibet merupakan ziarah mencari jawaban atas begitu banyaknya pertanyaan yang sangat pribadi. Meski tidak setiap pertanyaan mendapat jawaban (malah menimbulkan pertanyaan baru), tetapi perjalanan ini mampu 'memperkaya jiwa' para seniman tersebut. Perjalanan ke Tibet (dan Nepal) buat mereka adalah perjalanan yang sangat lengkap, mulai dari pemandangan alam yang luar biasa, kekayaan arsitekturnya, budaya yang sangat beragam dan aura spiritual yang sangat universal.

Kekayaan fisik dapat diambil dari kita dan kita secara sadar berusaha mempertahankan itu agar tidak hilang dari kita, tetapi kekayaan jiwa tidak akan bisa diambil dari kita. Ketika membaginya kepada orang lain, tidak membuat kita bertambah miskin melainkan membuat jiwa semakin kaya.

Melalui buku Tibet di Otak, ijinkan saya 'membagikan kekayaan' yang telah diperoleh seniman diatas kepada kita sekalian berupa 10 hal yang harus dilakukan dan tidak dilakukan versi mereka.

Sepuluh hal yang harus dilakukan di Tibet :
  1. Terbang dengan Buddha Air agar dapat menyaksikan gunung tertinggi di dunia (Qomolongma) lebih dekat
  2. Mengendari Yak (sapi Tibet)
  3. Menyelam di Yamdrok-tso, satu dari empat danau suci di Tibet
  4. Menghisap atau mencicipi Hash (Ganja) Nepal
  5. Hemat 50 Yuan dengan menunjukkan gambar Istana Potala
  6. Kencing di Istana Potala
  7. Menginap di Resort Nagarkot Fort dan menyaksikan atap dunia dari jendela anda
  8. Mengendarai becak orang (Rickshaw), mereka mengemudi seperti Montoya
  9. Hehehe anda harus terima bahwa ini kurang dari sepuluh
Sepuluh hal yang tidak boleh dilakukan di Tibet :
  1. Mengambil gambar tentara Cina di perbatasan
  2. Berjalan berlawanan arah jarum jam mengelilingi Istana Jokhang
  3. Makan daging Yak, karena hampir punah
  4. Mengendarai MIG 15 buatan 195o di Plasa di depan Istana Potala dan mengambil gambarnya
  5. Menyangkal anda terkena sakit ketinggian (high mountain sickness)
  6. Komplen tentang hotel, taksi, makanan, dll
  7. Menonton MTV atau CNN di hotel, mendingan meditasi deh !
  8. Pakai kaos bergambar Dalai Lama 14 atau bertuliskan 'Free Tibet'
  9. Berbicara hal politik terkait invasi Cina ke Tibet
  10. Membeli Pashmina Shawl (karena mengakibatkan binatang tersebut semakin punah)
Hal diatas sedikit yang bisa dibagi tentang Tibet. Selanjutnya saya akan bercerita lebih banyak dikesempatan yang lain.


Wednesday, April 06, 2011

Memandang Indonesia dari Merauke (Oleh Arifin Panigoro)*

*(ditulis di salah satu Media Nasional)

Saat mendapat gelar adat Warku Gebze dan dianggap Namek (saudara laki-laki) bagi masyarakat adat suku Malind Marori di Kampung Wasur, Merauke, Papua Pertengahan Agustus lalu, saya “ditikam” sebuah kesadaran baru. Memandang Indonesia dari Merauke ternyata lebih nyata ketimbang dari Jakarta dan Kota Besar lain.

Hamparan tanah seluas 11 juta hektar di Papua Selatan, Kabupaten Merauke Asmat, Mappi Boven Digoel itu belum banyak tersentuh tangan pertanian, misalnya, mengingatkan penulis akan sempitnya sawah petani saat ini.

Luas sawah di Republik tinggal 12 juta hektar, jika tanah di Merauke itu disentuh tangan-tangan produktif, ketahanan pangan kita akan menggeliat dan sangat kuat. Lebih dari itu, hasil pertanian itu juga bisa diolah menjadi energi terbarukan (biofuel) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Pendeknya, dari kesunyian dan ”keperawanan” Merauke, saya bisa lebih memahami pemikiran Thomas L Friedman (2008) tentang realitas dunia kekinian yang panas, datar dan kumuh. Juga keinginan untuk sebuah revolusi hijau diseluruh dunia agar kelangsungan hidup bumi tetap terjaga. Untuk itu semua, kita butuh pangan, pendidikan dan energi.

Segitiga Pertahanan

Fenomena dunia yang datar sama seperti gejala yang lain, selalu merupakan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuka peluang bagi siapa pun untuk maju dan berkembang tanpa adanya ganjalan diskriminatif. Disisi lain ia juga mengancam siapapun yang tak bisa bertahan dalam pertempuran tanpa batas wilayah itu. Dunia begitu sempit dan mereka yang tidak berkemampuan akan terjepit dan tertinggal.

Dilihat dari Merauke, terasa sekali Indonesia masih perlu kerja keras dan persiapan sistemik dalam menyongsong tekanan dunia yang semakin panas,datar dan kumuh tersebut. Perasaan bening seperti itu, selama ini sering terhalang tingginya gedung-gedung mewah, hotel-hotel berbintang dan fasilitas teknologi informasi canggih di Jakarta dan kota besar lainnya. Padahal dibalik itu, sejatinya kita masih lemah. Tiga pilar yang menjadi segitiga pertahanan, yaitu pangan, pendidikan dan energi masih kurang berdaya!

Dalam produksi pangan, misalnya saat ini kita masih jauh dari perkasa. Kecuali beras, hampir semua bahan pangan masih import. Sementara itu, sumber pangan alternatif sejauh ini belum dikembangkan.

Mengkuti logika dunia yang datar, kegagalan panen akan berubah menjadi hantu menakutkan apabila sekuen waktunya bersamaan dengan kelangkaan produksi pangan dunia. Bukan saja harga bahan dan produk pangan menjadi mahal,tetapi suhu politik domestik bisa berubah memanas seketika.

Energi dan Pendidikan

Sementara itu, dalam hal energi, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa cadangan minyak yang kita miliki semakin menipis, jika tidak boleh disebut habis. Tekanan dunia yang datar, bukan saja memaksa pemerintah mengambil kebijaksanaan untuk mengikuti harga minyak dunia, tetapi memaksa juga para pelaku bisnis energi berusaha untuk menemukan sumur baru dan sumber energi alternatif. Pergumulan untuk menemukan sumber-sumber energi itu dan mengembangkan energi yang terbarukan kini sedang berlangsung.

Sama seperti pilar pangan dan energi, pilar pendidikan juga masih lemah. Padahal, ia adalah titik keseimbangan dalam model segitiga pertahanan menghadapi dunia yang datar. Jika China sudah mempunyai lebih dari 30.000 doktor dalam bidang sains dan teknologi, Indonesia di duga baru sepersepuluhnya. Karena itu lompatan yang luar biasa perlu dilakukan untuk mengejar ketertinggalan di ranah pendidikan, khususnya menyangkut pengembangan nano teknologi, bioteknologi, teknologi informasi dan neurosains.

Integrasi keempat bidang tersebut dalam pilar pangan,pendidikan dan energi akan memperkokoh soliditas segitiga pertahanan dalam menghadapi dunia yang panas, datar dan kumuh. Tanpa penguatan tersebut, pertempuran yang kita lakukan di dunia yang datar adalah semu. Kita sudah kalah dari semula.

Mendatarkan Indonesia

Dari Merauke, terlihat jelas bahwa diantara lintasan dunia yang datar, keadaan Indonesia sendiri justru masih diwarnai lembah-lembah curam dan bukit-bukit berbatu. Ilustrasi itu merupakan sebuah analogi bahwa selain segitiga pertahanan (pangan, pendidikan dan energi) yang belum kuat, banyak praktik bisnis di negeri ini masih jauh dari efisiensi dan rasionalitas. Segmentasi pasar domestik masih begitu memprihatinkan.

Untuk ongkos angkut kontainer misalnya, jarak dari Jakarta ke Batam biayanya hampir dua kali lipat dibandingkan jarak Singapore ke California. Padahal, ukuran kontainer itu sama besar. Hal yang sama juga terjadi pada ongkos angkut dan harga buah-buahan. Harga buah impor bisa jadi lebih murah daripada buah lokal karena mahalnya ongkos angkut antarpulau dan pungutan lain yang harus dibayar. Adalah tugas kita bersama untuk mendatarkan Indonesia. Tanpa lalu lintas barang dan pelayanan yang bebas (free movement of goods and services) Serta kuatnya segitiga pertahanan (pangan, pendidikan,energi) di republik, dunia yang panas dan datar akan melibas kita.

Dari Merauke, ketika mendapat gelar adat Warku Gebze, saya meyakini bangkitnya optimisme Indonesia, dalam waktu sesingkat-singkatnya.

(Arifin Panigoro, Seorang pelaku usaha dan peminat masalah sosial Politik).


Wednesday, March 30, 2011

Hari ke – 4, ” Dari BT 95-12’-59.03”/LU 05-54’-21.99 menuju BT 141-1’-10”/LS 8-25’-45” *, Akhir sebuah Perjalanan ”



* Batas Wilayah RI yang tertulis di Km 0 Kota Sabang dan Perbatasan RI-PNG di Desa Sota Merauke


Jam setengah delapan kami sudah melapor ke Bandara meski keberangkatan jam 10 nanti. Hal ini untuk menghindari kejadian pergantian penumpang oleh oknum petugas maskapi mengingat hari-hari menjelang Natal dan Tahun Baru seperti ini lonjakan penumpang sangat tinggi. Ini terbukti ketika penerbangan ku yang seharusnya menggunakan pesawat MZ 791 diganti menggunakan MZ 872 yang untung nya lebih dahulu berangkat. Sesudah urusan check in beres Bang Ronnie dan aku berpisah karena dia harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan administrasi terkait pensiunnya.


Kurang lebih jam sembilan, pesawat Merpati yang akan membawaku ke Jayapura mendarat. Di lambung pesawat terdapat tulisan ”I IZAKOD BEKAI, IZAKOD KAI”, berasal dari bahasa Marind yang artinya Satu Hati, Satu Tujuan , tulisan ini merupakan slogan kota Merauke. Hampir semua pesawat Merpati yang mendarat di Merauke di lambungnya tertulis slogan tersebut.


Perbandingan Tiket

Ada hal yang menarik terkait perjalanan menuju tempat-tempat terpencil di Nusantara, dimana Merauke salah satunya. Secara harga sama bahkan lebih murah dan jauh lebih nyaman berkunjung ke luar negeri dibandingkan ke ujung Nusantara.

Sumber www.garudaholidays.com :

• 3D2N HONGKONG , start from USD 385

• 3D2N SAIGON, start from USD 361

• 5D3N MELBOURNE, start from USD 745

• 4D3N PERTHm start from USD 566

Rate are inclusive :

• Air ticket return economy class from Jakarta

• Accomodation

• Travel Insurance

Sumber pengalaman pribadi (1 USD = Rp 9.500):

• Ticket Makassar – Nabire, start from USD 568

• Ticket Biak – Nabire, start from USD 252 ( 45 mnt flight with twin otter)

• Ticket Jayapura – Nabire , start from USD 547 (1.45 hours flight)

• Ticket Balikpapan – Merauke, start from USD 652

Rate are inclusive :

• Air ticket return without accommodation


Perhatikan, ongkos pesawat (tidak termasuk hotel) dari Balikpapan ke Merauke masih lebih mahal dibandingkan perjalanan Jakarta Perth(termasuk hotel selama 3 malam). Ini yang membuat pelancong domestik lebih memilih berwisata ke Singapore, Australia atau pun Hongkong ketimbang ke Sabang, Lembah Baliem atau pun Pulau Banda di Maluku.


Tetapi buat rekan yang menikmati perjalanan budaya, wisata yang masih alami serta mau sedikit susah, membayar mahal dan mengurangi kenyamanan dengan mengunjungi pelosok Nusantara, sebanding dengan pengalaman yang didapatkan.


Penutup

Tepat pukul 09.30, penumpang MZ 872 dipanggil ke pesawat menuju Jayapura. Transit di Jayapura pukul 11.00 Witim, sekitar 11.30 setelah janjian sebelumnya ditelepon aku akhirnya bertemu dengan teman yang telah 21 tahun tidak bertemu, Abdul Raji serta teman yang kemarin mengantarkan aku ke Bandara, Abdul Jalil. Pesawat lepas landas meninggalkan Jayapura menuju Biak pada pukul 15.30. Dalam pesawat menuju Biak terlintas perjalanan berikutnya, hmmm Koh Samui, Lhasa atau Umbria?

[Selesai]

Hari ke – 3, ” Merauke, Surga Kecil yang Jatuh di Bumi*”




*)Diambil dari judul Kompas online tanggal 25 September 2009


Tanah Papua, tanah yang kaya. Surga kecil jatuh ke bumi. Itu adalah petikan syair lagu berjudul ”Aku Papua”. Merauke adalah bagian dari surga itu. Sebuah kabupaten di bagian selatan Papua seluas 4,5 juta hektar dan berpenduduk sekitar 300.000 orang.


Pagi ini sesudah mandi dan tanpa sarapan kami melaju menuju batas paling timur Republik ini yang terletak di Desa Sota. Sebelumnya kami singgah sebentar ke kantor untuk mengambil ban cadangan dan dongkrak mengingat tujuan kami adalah keluar kota dengan jarak tempuh kurang lebih delapan puluh kilo meter. Seperti sebelumnya, bang Ronnie menjadi sopir dan aku menjadi navigator, daerah yang pertama kami temui adalah, Taman Nasional Wasur.


Taman Nasional Wasur

Perjalanan sepanjang Taman Nasional Wasur berlangsung lancar tanpa halangan. Disepanjang perjalanan kurang lebih dua kali kami berhenti untuk mengangkut orang yang hendak menumpang mobil pick up kami, murah hati, memiliki pribadi yang hangat serta banyak bicara itu lah Bang Ronnie, sehingga setiap orang yang menghentikan mobil pickup kami untuk meminta tumpangan pasti akan dikabulkan Bang Ronnie. Disepanjang lintasan aku melihat tanah gundukan setinggi 2 – 7 meter di tepi jalan. Tanah gundukan tersebut bukanlah gundukan tanah belaka, melainkan merupakan rumah-rumah semut yang dibangun bertahun tahun. Penduduk disekitarnya menyebutnya “Musamus”. Rumah semut ini menjadi symbol semangat bagi masyarakat setempat.


Keanehan TN Wasur, sekitar 70 persen dari luas kawasannya berupa vegetasi savanna, sedang lainnya berupa vegetasi hutan rawa, hutan musim, hutan pantai, hutan bamboo, padang rumput, dan hutan rawa sagu yang cukup luas. Jenis tumbuhan yang mendominasi antara lain, apai-api (Avicenia sp), tancang (Bruguiera sp)Ketapang (Terminalia sp), dan kayu putih (Melaleuca sp).


Sedangkan satwa yang sering dijumpai disini, seperti, Kanguru pohon, Kesturi Raja, Kaswari Gelambir, Dara Mahkota/Mambruk, Cindrawasih Raja, Cindrawasih Merah, Buaya air tawar, dan buaya air asin. Sayangnya satwa ini sudah semakin jarang ditemui karena diburu oleh penduduk dan oknum Militer dan Polisi yang digunakan sebagai makanan atau cinderamata.


Salah satu daerah yang tak kalah menariknya di TN Wasur ini, Danau Rawa Biru. Disini berbagai jenis satwa seperti burung migrant, Walabi, dan Kasuari sering dating dan menghuni di Danau tersebut. Danau ini sering disebut “Tanah Air”karena ramainya berbagai kehidupan satwa - satwa.


Sota, Tapal Batas Republik Indonesia

Melewati TN Wasur, kami menjumpai tugu kembar yang merupakan kembaran tugu yang sama yang terletak di Kota Sabang!! Tetapi kami terus melaju karena tujuan utama kedatangan aku ke Merauke adalah melihat daerah paling timur Indonesia, setelah pada bulan Maret tahun ini aku berkunjung ke Km 0, daerah paling barat yang terletak di kota Sabang. Mendekati tugu perbatasan Republik Indonesia dan Papua New Guinue (PNG) kami menjumpai Pos Imigrasi perbatasan yang dijaga oleh anggota Kopassus berpakaian preman. Setelah melapor sebentar kami meneruskan perjalanan dan akhirnya menemui markas Infantri yang menjaga daerah Perbatasan PNG-RI di Desa Sota Merauke. Komandan Kompinya masih mudah, berusia dua puluhan tahun, karena suasana perbatasan yang relatif kondusif Komandan Kompi dan anak buahnya yang baru berdinas satu bulan diperbatasan ini mengisi hari-hari mereka dengan bercocok tanam. Kebetulan Pasukan Infantri yang berdinas di daerah perbatasan ini berasal dari Nabire. Sepintas terlihat wajah anggota pasukan Komandan Iman adalah para tentara muda dan mungkin belum pernah bertempur.


Kami berhenti untuk melapor karena ini merupakan kantor Pemerintahan resmi yang paling dekat dengan daerah perbatasan. Kami juga perlu tahu apakah daerah perbatasan aman untuk dikunjungi atau tidak. Kami berbincang beberapa saat dan mereka kelihatan gembira karena ada orang dari kota yang mengunjungi mereka. Satu hal saja yang membuat mereka sedih karena tidak ada sinyal handphone di daerah tersebut, tidak seperti daerah perbatasan lain di Papua : Jayapuran dan Tanah Merah, kedua tempat ini sudah terjangkau sinyal handphone. Sedih karena mereka tidak dapat berkomunikasi dengan anak dan istri di era telekomunikasi ini. Ketika kami pamit karena harus ke daerah perbatasan, Komandan Iman memerintahkan salah satu anak buahnya mengawal kami. Seumur hidup baru kali ini aku jalan didampingi pengawal bersenjata otomatis dengan peluru yang siap ditembakkan.


Hanya beberapa menit dari Pos terakhir tentara tersebut kami akhirnya sampai dititik paling Timur Republik ini yang ditandai plat besi tanda tera daerah perbatasan yang diakui dunia internasional serta disampingnya ada tugu yang tertulis koordinat yang tertera di plat besi itu : 141 1’ 10” E dan 08 25’ 45” S. Rasa-rasanya tombol rana Kamera tidak berhenti aku tekan karena senangnya aku bisa sampai daerah perbatasan yang telah kuidam-idamkan sejak lama. Sekeliling tugu perbatasan itu dibuat taman sehingga terlihat lebih cantik. Yang menarik berdekatan dengan tugu tersebut terdapat rumah semut yang bernama Musamus. Kurang lebih 30 menit kami berada di perbatasan kemudian Bang Ronnie memanggilku agar segera bergerak ke lokasi lainnya menuju Kampung Urumb untuk mengunjungi tempat persembunyian bang Ronnie kala stress, Pantai Urumb.


Kami pun bergegas menuju ke kota, tetapi sebelumnya singgah sebentar untuk mengantar kan pengawal kami serta berpamitan dengan Komandan Iman. Tidak lupa kami juga singgah di tugu kembar yang dibuat dua buah. Satu dipasang di kota Sabang dan satu lagi di kota Merauke. Kami mengambil beberapa foto di lokasi tugu tersebut. Dalam hati aku berujar betapa beruntungnya aku karena pernah mengunjungi dua tugu kembar tersebut.


Kampung Urumb

Kurang lebih dua jam kami habiskan dijalan dari daerah perbatasan menuju Kampung Urumb. Menuju Kampung Urumb, kami melewati Jembatan Desa Kuprik yang merupakan jembatan terpanjang di Papua. Lebar sungainya melebihi sungai Mahakam di Samarinda. Karena sudah lapar, dalam perjalanan kami berhenti untuk membeli Nasi Bungkus dan menyantapnya pada siang hari terik jam 1 siang, dipinggir jalan menuju Kampung Urumb yang berdebu dibawah sinar matahari yang terik tanpa pelindung! Kami tidak enak apabila makan di Kampung Urumb karena Cuma membeli dua bungkus makanan.


Sampai di Kampung Urumb, bang Ronnie lantas memanggil saudara-saudaranya dari pinggir jalan untuk menemani kami menuju ke Pantai. Kami pun berjalan kaki kurang lebih sejauh satu kilometer menuju pantai dengan ditemani Kris, salah satu keponakan bang Ronnie. Hal yang mengesankan, ketika sampai dipantai Bang Ronnie kemudian meminta bantuan warga Kampung Urumb yang berada di pantai utk menjaring ikan ke laut agar kami makan. Selorohnya, saya ada bawa tamu penting jadi kalian harus cari ikan untuk tamu ini. Kami pun menuju pinggiran laut untuk memasang jaring penangkap ikan. Kurang lebih satu jam dengan tiga kali menarik jaring akhirnya kami dapat cukup banyak udang dan ikan yang seukuran telapak tangan anak kecil. Bahkan pada tarikan jaring yang kedua kami mendapat anak Pari dan kepiting yang berukuran besar. Ikan dan udang yang paling enak adalah, ikan dan udang yang segar yang baru ditangkap, rasanya pasti gurih dan manis. Setelah udang tersebut selesai direbus kami pun pesta udang dengan minuman air kelapa muda!


Sekitar jam empat lebih beberapa menit kami memutuskan pergi dari pantai menuju mobil yang diparkir cukup jauh dari kantor. Setelah puas berputar-putar di Kampung Urumb, kurang lebih pukul lima lewat kami pun meninggalkan pantai menuju kota.


Malam Terakhir di Merauke

Sampai dirumah, Bang Ronnie berubah menjadi koki, memasak udang tepung segar yang manis rasanya, dan aku kebagian memasak nasi. Sesudah makan malam di rumah, kami ke kantor untuk mengecek email yang masuk serta info terbaru yang berhubungan dengan pensiun dini Perusahaan kami. Bang Ronnie sudah memutuskan untuk pensiun lebih awal karena ingin beristirahat dan berkumpul dengan keluarganya di Surabaya.


Mamat di Sabang dan Bang Ronnie Rober Oei di Merauke, dua sahabat yang membuat perjalanan ku menjadi luar biasa. Berwisata sambil melebur dengan kebudayaan warga setempat adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan dan tidak dapat dibeli dengan uang. Karena kita bertemu dengan orang-orang seperti ini bukan melalui travel agent, tetapi kebanyakan karena pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja atau melalui sahabat yang tinggal di daerah wisata tersebut.


Karena seharian melakukan perjalanan, malam ini kami tidur lebih cepat karena kelelahan, jam sembilan malam bang Ronnie sudah tidur, aku menrapikan barang-barang karena besok pagi harus melanjutkan perjalanan menuju Biak.


Hari ke – 2, ”Pelai* ! Sampai juga ke Merauke”







*) : ungkapan seperti Jancuk di Surabaya atau anjir di Bandung yang sudah dianggap tidak kasar, sehingga digunakan dalam percakapan sehari baik pria mau pun wanita. Kata2 ini banyak digunakan oleh orang-orang di Merauke.


Semua anak yang SD di Indonesia pada jaman aku (tidak tahu jaman sekarang) pasti tahu dan hapal lagu Dari Sabang Sampai Merauke. Beberapa tahun lalu, lagu tersebut, khususnya larik pertama, sempat "dikomplain" oleh Bupati Merauke Drs Johanes Gluba Gebze. Menurutnya, waktu terbit matahari di Merauke dua jam lebih awal dibandingkan dengan munculnya sang surya di bagian Barat wilayah Indonesia. Tetapi banyak orang menyebut bentang wilayah RI dari Sabang hingga Merauke, bukan sebaliknya. Karena seharusnya kita menyebut yang awal dulu baru akhir, lebih tepat apabila syairnya dari Merauke sampai Sabang, kata beliau !!


Untuk diriku agak berbeda, karena kota yang pertama kali aku kunjungi adalah Sabang, pada bulan Maret 2009 yang lalu, sementara Merauke baru ku kunjungi hari ini, sehingga lebih tepat kalau menyebutnya “Dari Sabang Sampai Merauke”. Perjalanan yang sudah kurencanakan kurang lebih dua tahun yang lalu. Aku pernah punya pemikiran bahwa sebelum aku melakukan perjalanan dengan biaya sendiri ke negara lain, sebaiknya terlebih dahulu mengunjungi Sabang dan Merauke. Hari ini keinginan itu pun menjadi kenyataan.


Kedatanganku di Bandara Mopah Merauke disambut oleh rekan baik aku eks teman kantor di Balikpapan, yang pindah ke kota ini dan menjadi kepala kantor disini, bang Ronnie Robert Oei. Dia adalah lelaki China peranakan Irian yang lahir dan besar di Merauke, dan kembali ke Merauke sejak tahun 2007 sesudah hampir 28 tahun bekerja di luar Merauke. Dengan dijemput mobil pickup kantor, dari Bandara kami menuju rumah Bang Ronnie untuk meletakkan tas dan mengganti baju. Kemudian kami langsung melaju menuju Pantai diujung Landasan Mopah menemui saudara sepupu Bang Ronnie yang tinggal didaerah itu.


Kaget juga sampai disana, kurang lebih ada 10 lelaki dewasa sedang duduk mengelilingi para-para ditepi pantai, sambil menenggak minuman keras yang terbuat dari tunas buah Kelapa yang sudah difermentasi. Awalnya minum-minum berjalan biasa-biasa saja, mereka bergantian menenggak ¼ gelas Sopi (nama minuman keras itu) dari gelas yang sama yang dibagikan oleh bandar. Kemudian datang seorang lelaki lain ke group tersebut utk bergabung. Masalahnya lelaki yang datang terakhir ini terlalu banyak bicara karena sudah mabuk terlebih dahulu sebelum ketempat kami. Tempat mereka minum-minum adalah rumah peristihatan nelayan tradisional si tuan rumah yang juga Cina peranakan beristri orang Papua, Pak Faiku nama nya. Pak Faiku baru saja mendapat uang dari project menanam bakau dipantai Ujung Mopah, sehingga mereka pun pesta miras. Dalam kumpulan itu, ada juga Pak Moses yang berasal dari suku Marind, salah satu suku asli Merauke. Beliau adalah tuan tanah yang baru-baru ini mendapat ganti rugi tanah adat sebesar 2 milyar dan dalam proses untuk mendapat ganti rugi berikutnya atas tanah yang akan digunakan sebagai perluasan bandara sebesar 6 milyar !


Kembali ke kerumunan orang mabuk tadi, akhirnya sang tamu ribut dengan tuan rumah tempat kami berkunjung. Tuan rumah, Cina peranakan yang badannya penuh tatto yang juga mabuk ini pun marah, mengeluarkan parang nya yang cukup panjang. Buat orang yang baru datang di Papua pasti kaget tetapi buat yang sudah lama di Papua pasti pernah menyaksikan hal ini, orang kejar-kejaran menggunakan parang atau jubi (tombak). Hehe seram juga pada awalnya, orang mabuk dengan senjata tajam, kita tidak bisa menduga arah pikirannya, apalagi keduanya mantan residivis. Cara terbaik adalah bersiaga dan sedikit menjauh dari kerumunan itu.


Menarik rasanya melihat sekumpulan orang Papua dari kalangan bawah sedang berbagi minuman keras dan minum bersama-sama. Pada akhirnya akan ada yang berkelahi karena sudah sama-sama mabuk. Menyaksikan peristiwa ini, rasa-rasanya aku sudah sah berada di Papua. Untungnya tidak terjadi perkelahian besar, karena ada rekan Polisi Militer yang mendamaikan mereka. Yang menyedihkan dari saudara-saudara yang suka mabok di Papua, adalah taraf hidup mereka pastinya akan selalu dibawa garis kemiskinan.


Kurang lebih dua jam mereka berkumpul ditempat tersebut akhirnya satu persatu bubar dan kami kemudian pindah lokasi ketempat yang lain, karena Bang Ronnie sudah janjian akan bertemu dengan teman-teman masa kecilnya.


Bang Ronnie baru saja mendapat tanah pembagian dari Pak Moses si tuan tanah. Tanah seluas hampir seribu meter persegi letaknya persis di pinggir Pantai Ujung Mopah. Ditempat itu bang Ronnie membuat pondok tempat beristirahat dan beberapa kali mengundang teman-temannya pada hari libur untuk berkumpul di pondok tersebut. Kali ini rombongan yang kami temui adalah rombongan yang berbeda 180 derajat dengan sebelumnya. Sekumpulan orang Cina perantauan yang sudah lahir dan besar di Merauke. Mereka pada umumnya adalah pemilik toko besar di kota Merauke, jumlahnya 4 keluarga yang datang dengan membawa anak-anaknya. Tempat kami pun menjadi ramai. Pak Deki teman SD bang Ronnie mengatakan, mereka lebih suka ketempat ini karena tempatnya lebih sepi dan tidak diganggu oleh pedagang seperti dipantai lainnya.


Menyenangkan menyaksikan dua kelompok yang berbeda pada hari yang sama. Dengan mengobrol dengan kedua kelompok ini, rasa-rasanya jadi tahu atmosfir budaya dikota ini. Kota Merauke, jauh lebih aman buat pendatang dibandingkan kota-kota lain di Papua. Dari bang Ronnie aku juga tahu bahwa Cina peranakan yang telah ada sejak jaman Belanda dulu, mampu berasimilasi dengan penduduk asli sehingga diterima dan dianggap saudara oleh mereka. Boleh dibilang semua warga Cina yang datang pada jaman Belanda ke Papua diterima dengan baik dan berasimilasi dengan warga Papua, entah dikota, Merauke, Sorong. Yang terkenal karena wanitanya berparas cantik-cantik – adalah warga keturunan Cina dari Pulau Serui. Mereka biasanya berayah atau beribu orang Papua. Dalam hal pertikaian dengan penduduk asli hampir tidak pernah kedengaran, karena keturunan yang ketiga dan keempat sekarang ini sudah dianggap sebagai orang Papua.


Hari ini diawali dengan wisata budaya di kota Merauke. Ini membuat jiwa semakin kaya. Sesudah makan malam, aku dibawa Bang Ronnie menyusuri kota Merauke yang benar-benar datar dan rata. Semua jalan besar kami jalani, menarik memperhatikan infrastruktur awal yang dibangun Belanda. Kota Merauke adalah kota berpasir, tidak ada batu dikota ini dengan permukaan datar dan hampir sejajar dengan Laut tetapi ketika hujan besar tidak pernah banjir. Oleh insinyur Belanda, dipinggir jalan utama yang mereka bangun dibangun kanal-kanal sehingga ketika laut pasang tidak akan menggenangi kota tetapi masuk melalui kanal-kanal tersebut. Peninggalan itu masih terlihat sampai sekarang. Hampir sama dengan jalan di kota Palangkaraya yang lurus, lebar, datar dan siku 90 derajat kota Merauke pun begitu. Hanya ada satu bagian jalan kurang lebih panjang jalan itu 5 meter, dalam bentuk gundukan setinggi dua meter yang sering disebut penduduk setempat gunung. Jadi kalau mau naik gunung dikota Merauke lewati saja jalan raya yang bergunduk itu maka anda sudah sampai dipuncak Gunung kota Merauke!