Friday, July 30, 2010

Hari ketiga : Snorkeling seharian di Iboih - Sabang


Sesudah mengambil beberapa gambar matahari terbit dan sarapan, tanpa menunggu lebih lama lagi aku dan Firman langsung terjun untuk mengintip dunia bawah air dengan kacamata selam dan sirip kaki. Session pertama dimulai jam 9 pagi dengan tujuan Pulau Rubiah yang jaraknya 400 meter dari penginapan kami.


Sedikit tentang lokasi snorkeling kami sebagai gambaran, daerah tempat kami menginap (Iboih) adalah sebuah teluk yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia. Iboih berada diposisi teluk yang ke barat yang lebih dekat ke Samudera Hindia, sementara Gapang agak ke Timur (bagian yang menjorok kedalam). Gapang dan Iboih adalah lokasi spot snorkel dan dive yang terkenal di Aceh, bahkan Indonesia. Iboih dan Gapang adalah pantai yang masih segaris, di depan Gapang dan Iboih terdapat Pulau yang bernama Rubiah yang terkenal dengan Taman Bawah Laut nya. Dengan adanya Pulau Rubiah, seolah-olah menjadi buffer terhadap arus yang menuju garis pantai di Gapang dan Iboih. Hal ini yang mungkin membuat arus bawah laut di Iboih dan Gapang tidak berbahaya, sehingga aman untuk snorkel dan dive.


Gapang memiliki pantai berpasir sehingga cocok untuk bersantai sedang pantai di Iboih tidak berpasir karena langsung batu-batu besar dan koral-koral karang. Pemerintah Indonesia telah menentukan daerah teluk perairan ini, sekitar 2600 hektar termasuk pulau Rubiah sebagai daerah special nature reserve. Airnya jernih (25 m visibility) laut disini diisi oleh bermacam trumbu karang dan ikan bermacam warna. Disini dapat ditemukan gigantic clams, angel fish, school of parrot fish, lion fish (ikan singa), sea fans, dan banyak lagi. Bagi penggemar snorkel berpengalaman, Octopus (Gurita) dan Stingrays dapat dilihat disini. Tempat ini merupakan surganya turis penggemar snorkel dan selam.Terumbu karang hanya berjarak sekitar 5 meter dari tepi pantai berpasir!!


Dengan menyewa perangkat seharga 45 ribu yang terdiri dari kacamata selam, sirip kaki dan jaket pelampung kami pun berenang menuju Rubiah, ditengah-tengah laut menuju Rubiah, Firman yang telah mengenal lokasi snorkel di Sabang menyarankan agar kami jangan ke ujung pulai Rubiah karena arusnya keras. Karena untuk menuju lokasi snorkel terbaik di Rubiah harus melalui ujung pulau itu, kami pun membatalkan rencana ke Rubiah dan konsentrasi ke koral-koral yang ada ditepi Iboih yang jaraknya hanya beberapa meter dari pantai.


Dibawah terumbu karangnya dan koralnya berukuran besar. Aku tidak tahu namanya, yang jelas ada yang bentuknya seperti otak manusia. Sepanjang pantai terdapat koral dan karang. Beberapa karang dan koral sudah mati yang ditandai dengan rontoknya terumbu-terumbu karang dan warna koral yang sudah berwarna abu-abu pucat seperti abu rokok. Dengan jumlah yang tidak terlalu banyak terdapat rumput laut yang bentuknya seperti karpet tebal dengan bulu-bulu panjang, tempat ikan badut Nemo mencari makan dan berbaring seolah-olah tidur !!! Setiap terdapat biota laut berbentuk karpet tebal itu pasti terdapat ikan badut (clown fish). Cuma yang benar-benar seperti nemo dengan warna orange dan strip putih sangat jarang. Aku Cuma bertemu sekali, yang banyak ikan badut dengan strip hitam dan orange (bukan putih orange).


Ikan favorit aku karena warnanya paling mencolok adalah ikan taji-taji (bahasa Sabang), badannya berwarna biru langit, sirip bawah berwarna putih salju, sirip atas berwarna kuning cerah dan mata seperti menggunakan kacamata pelindung dengan helm berwarna hitam. Yang menarik ekornya berwarna putih dan dengan bingkai hitam mengililingi warna putih itu! Indah sekali dan jumlahnya sangat banyak hampir disepanjang pesisir Iboih ada ikan ini. Ikan kedua yang aku suka adalah ikan layar bercorak dominan kuning dengan strip hitam dengan bentuk badan pipih dan tatapan mata memelas (tampangnya sedih) serta ada sirip yang panjang dibagian atas tubuhnya seolah-olah berbentuk kapal layar. Ada juga ikan Jabung yang konon ketika beranak jangan didekati karena dia akan menyerang kita. Giginya tajam dan dapat memutuskan jari kalo tergigit. Yang menarik dari ikan Jabung gaya berenangnya seperti orang mabuk, miring tidak tegak seperti ikan normal, kebanyakan miring ke kiri, mungkin karena siripnya pendek sebelah hehehe....


Ikan lain yang menarik adalah ikan janggut yang ketika berenang janggutnya seperti sirip yang lemah, tetapi ketika mendekati dasar pasir, tiba seperti jari yang menjalar menyibak pasir mencari karang-karang atau biota laut yang kecil untuk dimakan. Ada juga ikan singa yang selalu bersembunyi dibalik batu karang, ada lobster yang bentuknya mengerikan seperti Alien, Gurita yang ketika menempel di karang tidak kelihatan karena warnanya tiba2 berubah seperti warna karang. Firman yang terbiasa menyelam mengenal gurita dan menangkapnya, yang terjadi kemudian gurita itu menyemprotkan tintanya sehingga air berwarna hitam. Banyak sekali jenis ikan yang aku pun lupa bentuknya seperti apa. Semoga ikan-ikan yang tidak disebutkan namanya tidak tersinggung :-)


Kalau aku perhatikan ikan pun seperti orang, ada yang lasak (tidak bisa diam) yang kerjanya mengganggu ikan lainnya. Ada yang berprofesi seperti tim penyapu jalanan yang berbaris dalam kelompok-kelompok bergerak perlahan-lahan menghisap terumbu-terumbu karang. Sekelompok ikan kecil yang lain seperti segerombolan anak sekolah yang sedang tour guide tapi tanpa didampingi orang dewasa. Ada juga ikan yang pemalu yang selalu bersembunyi dibalik batu karang dan yang menarik ada ikan yang seperti sedang kasmaran karena kemana-mana selalu berdua!!


Istirahat sebentar untuk makan dan siang ketika tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Tiga jam didalam air tidak terasa, tepat pukul 1 siang kami kembali ke air sampai jam 3 sore menyusuri pantai ke arah teluk bagian dalam. Istirahat sebentar karena Firman harus segera pulang ke kota Sabang untuk mendampingi tim asuhannya untuk bertanding volley. Rencana awal hari ini aku menginap di kota Sabang, tetapi karena ketagihan dan sudah dekat dengan Andy Saragih dan Jamal pengelola Cottage Iboih Inn, aku memutuskan kembali menginap di Iboih dengan catatan besok jam 6 pagi harus segera berangkat ke Sabang agar tidak ketinggalan Ferry cepat.


Setelah beristirahat kurang lebih sejam, aku kembali snorkel. Kali ini benar-benar sendiri, karena Firman sudah kembali ke Sabang, teman-teman se penginapan lainnya memilih berperahu ke Pulau Rubiah. Kali ini tujuan ku ujung daerah Iboih yang katanya lebih dalam dan agak berarus. Awalnya takut karena biar bagaimanapun aku tidak mengerti perilaku arus didaerah ini dan mahluk apa saja yang harus dihindari. Snorkling sendirian itu aku menduga-duga mahluk apa yang muncul ketika pandangan di air memasuki jarak pandang. Harapan aku sih didepan aku tidak tiba-tiba muncul ubur-ubur, hiu dan ular laut. Ujung Iboih dapat dicapai dengan terengah-engah, balik ke basecamp tentu perjuangan lagi karena harus berenang sekitar 500 an meter.


Pemandangan dibawah tetap indah sampai ke ujung Iboih, kegiatan hari ini benar-benar full snorkeling dari jam 9 sampai jam 5 sore. Makan malam di daerah Gapang, malam terakhir aku menghabiskan waktu mengobrol dengan rekan-rekan satu penginapan yang adalah turis lokal dan Pengelola cottage Iboih Inn. Kami bertukar email, mengambil beberapa gambar dan berjanji untuk bertemu lagi di dunia facebook untuk bertukar kabar dan mungkin bersama-sama merencanakan perjalanan mengejar sepotong sorga di tempat yang lain....


Lokasi Yang Dikunjungi :

Koral Sepanjanga Pantai Iboih


Catatan:


Tempat menginap: Iboih inn,

Harga : Rp 250 ribu (include FB)

Penjaga : Andy Saragih & Jamal

Keramahan : top and friendly

Telp : 0811841570

Email : iboih.inn@gmail.com

Waktu terbaik : tanggal 10-15 setiap bulan (Purnama)

Hari kedua : Mengejar Senja di Ujung paling Barat Daratan Indonesia


Transportasi dari Banda Aceh ke Sabang menggunakan Ferry, yang teridiri dari 2 jenis kapal. Yang pertama adalah ferry biasa dan yang kedua adalah ferry cepat. Kapal Ferry biasa waktu tempuhnya sekitar 2 jam, sedangkan ferry cepat, waktu tempuhnya sekitar 45 menit. Tepat pukul 09,00 Wib aku diantar oleh petugas satuan pengamanan kantor bernama Yusran menuju pelabuhan ferry Uleelheue. Pelabuhan menurut cerita rekan-rekan yang tinggal di Aceh, telah bergeser dua ratus meter menuju daratan dari garis pantai sebelumnya. Pelabuhannya sendiri baru selesai dibangun dan terasa megah dan indah untuk ukuran pelabuhan penyeberangan. Jika aku bandingkan dengan bandara international Juwata Tarakan, pelabuhan fery Uleelhee jelas lebih megah. Mungkin dibandingkan sebagian besar airport propinsi di Indonesia, pelabuhan penyeberangan ferry Uleelhee jauh lebih bagus. Tepat jam 09.30 Kapal ferry cepat Pulorondo berangkat menuju pelabuhan Balohan Sabang. Dengan alasan kenyamanan dan karena malam sebelumnya aku tidak keluar biaya untuk penginapan, aku memilih membeli tiket VIP dengan harga Rp 85.000,-

Dalam perjalanan menuju Sabang, aku menyempatkan diri untuk melakukan perbaikan penilaian Sasaran Kerja Individu dari kantor yang kebetulan hari Jumat tanggal 27 Maret ini adalah hari terakhir. Karena disibukkan dengan urusan kantor, aku kurang memperhatikan rekan seperjalananku. Aku baru memperhatikannya ketika dia dalam pembicaraan ditelepon dengan rekannya menyebut-nyebut kota Merauke sementara kami sedang dalam perjalanan menuju kota Sabang!!

Namanya Pak Hendro, pria berusia 59 tahun tamatan planologi ITB ini adalah kontraktor yang mengerjakan project konstruksi dari Sabang sampai Merauke. Kebetulan saat ini sedang mengerjakan project di Sabang dan dalam beberapa waktu mendatang akan mengerjakan project pembuatan jalan di Merauke. Pembicaraan awal kami tidak lama karena kapal sudah keburu merapat di Balohan Sabang. Pak Hendro menanyakan apakah aku ada kendaraan, ketika aku menjawab tidak dia lalu menawarkan tumpangan dengan taxi langgannya. Kami singgah sebentar di salah satu kantor Dinas kota Sabang dimana pak Hendro memasukkan berkas tendernya kemudian menuju tepi pantai untuk makan siang. Menu makan siang hari ini, ikan teri basah goreng, ikan tongkol, tempe, sambal goreng, sayur santan serta es kopi hitam. Warung kecil yang murah serta masakan yang membangkitkan selera. Makan enak dan gratis, what a lovely day...

Setelah menyelesaikan makan siang dan bertukar nomor handphone, Pak Hendro mengantar aku menuju kantor Telkom Sabang di Jalan Tengku Hamzah. Aku sudah janji ketemu teman kantor, Pak Erwin dan Pak Mawi yang aku kenal dari buku database nomor telepon karyawan. Kami sudah melakukan kontak email sejak tahun 2007 yang lalu. Sehari sebelum berangkat aku sudah memberitahukan mereka berdua bahwa aku akan ke Sabang, dan mereka menyarankan setibanya di kota Sabang agar langsung menuju kantor.

Sambutan Pak Erwin dan Pak Mawi ramah. Mereka berdua menawarkan untuk ditemani karyawan lainnya mengantar aku menuju Gapang dan Iboih. Pak Erwin menyarankan agar menghabiskan waktu hari ini di kota Sabang kemudian keesokan harinya menginap di Gapang atau Iboih. Aku menyetujuinya, kemudian dengan ditemani salah satu staff Pak Erwin yang bernama Maman, kami menggunakan RX King melaju menuju spot-spot menarik di Kota Sabang dengan tujuan utama Benteng Jepang dan Sumur Tiga. Dalam perjalanan kami menuju Benteng Jepang, aku meminta Maman berhenti karena ada beberapa bangunan peninggalan Belanda yang masih bagus di daerah kota atas. Aku selalu tertarik mengabadikan bangunan peninggalan Belanda. Setelah mengambil beberapa gambar, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Benteng Jepang dam Sumur Tiga.

Langit kembali biru sesudah satu jam sebelumnya kota Sabang di dera hujan deras. Pemandangan pantai di depan Benteng Jepang menentramkan hati. Langit yang tenang dengan langit yang biru sungguh perpaduan yang Indah ! Ketika kami sampai di daerah itu, dari atas langsung terlihat pemandangan air laut dengan tiga warna : kehijauan, biru muda dan biru gelap !! Hampir satu jam aku menikmati pantai dan mengambil gambar-gambar, kemudian kami menuju Pasir Tiga. Setelah memotret pasir putih dan batu-batu karang di Sumur Tiga kami pun kembali menuju kota Sabang. Diperjalanan aku memutuskan untuk menginap di Gapang/Iboih karena waktuku Cuma dua hari di Pulau Sabang dan menawarkan Maman untuk menemaniku bermalam disana dan Maman pun setuju!

Bagian paling Barat kota Sabang memiliki tiga tempat wisata yang wajib dikunjungi karena searah. Yang pertama kali ketemu adalah daerah Gapang, pantai dan lokasi Diving kemudian pantai Iboih, sama dengan Gapang, merupakan tempat Diving dan snorkeling dan yang paling Barat adalah Kilometer Nol. Titik yang dianggap awal pengukuran kilometer negara Republik Indonesia. Dengan dua ransel besar kami pun memacu RX King menuju daerah yang paling jauh, untuk mengejar sepotong senja di daratan paling barat Indonesia.

Sampai di Tugu Km O, masih jam 17.00 lewat. Matahari masih terik, kami lalu mengambil beberapa foto di dalam Tugu Km. Ketika matahari semakin rendah, sekitar setengah tujuh kami pun duduk diatas batu yang terletak diluar pagar jalan raya disisi jurang yang menghadap pantai lepas Samudera Hindia. Ketika Matahari benar-benar tenggelam sekitar jam tujuh kurang seperempat, keheningan dan lukisan cahaya dilangit membuat hati terasa damai. Ada perasaan meluap di dada. Berada di daerah paling barat di Indonesia, dibibir jurang yang menghadap ke laut lepas dimana langit dan awan berwarna merah. Sungguh aku merasa beruntung karena alam bermurah hati menunjukkan keindahannya pada hari ini, padahal beberapa saat sebelumnya langit ditutupi awan dan hujan turun cukup deras. Senja dititik paling barat Republik ini adalah salah satu senja terbaik yang pernah aku ingat!

Tidak heran Anatoli dari Jerman yang mantan karyawan National Geographic dan Luca lelaki Italy yang menikahi wanita Aceh selalu datang ke Tugu Km 0 untuk menikmati sepotong senja yang indah ini. Kami berempat sama-sama menikmati masuknya mentari ke Peraduan sambil bertukar cerita tentang travelling dan lokasi dive di Indonesia. Tepat pukul 19.20 kami meninggalkan Tugu Km 0, di Barat langit masih merah meski sudah gelap, tapi kami harus segera menuju Gapang karena kami belum memutuskan akan menginap dimana!!

Maman menawarkan menginap di Gapang dengan alasan lebih ramai, aku menawarkan untuk melihat pantai Iboih terlebih dahulu sebelum ke Gapang. Setelah menyantap mie Aceh yang rasanya biasa-biasa saja di warung di tepi pantai Iboih, kemudian kami memutuskan untuk melihat kamar-kamar cottage yang ada di Iboih. Penginapan agak unik karena untuk menuju penginapan tersebut kami harus berjalan kurang lebih 1 Kilometer karena motor tidak diperkenankan masuk ke lokasi tersebut. Jalan yang ada hanya jalan setapak yang telah di paving, tanpa lampu dan kami hanya mengandalkan cahaya handphone agar tidak terjerembab karena tangga turun, tangga naik atau tersandung akar pohon. Setelah menanya kebeberapa penduduk, untuk mendapat penginapan yang cukup representatif, kami dianjurkan menuju Penginapan Iboih Inn, cottage paling bagus di pantai Iboih. Setelah sampai di Iboih Inn, aku meminta untuk melihat kamarnya. Hanya Fan dan dua buah ranjang dengan waktu check in sudah menunjukkan pukul 9 malam kami dikenai biaya 250 ribu rupiah. Setelah tawar menawar yang cukup alot, akhirnya Saragih(kenapa pulak ada orang Batak di daerah terpencil ini hehehe) si recepsionist merangkap Koki menyetujui harga penginapan satu malam Rp 175.000 dengan catatan tanpa Sarapan pagi. Kami berdua sepakat, Aku dan Maman menuju kekamar No 7. Didepan teras kamar, aku memandang ke langit, diatas bintang terasa dekat karena tidak ada polusi cahaya, debur ombak, suara jangkrik dan petikan gitar Blues Clapton dalam album Me and Mr Johnson, rasa-rasanya aku tidak ingin malam ini cepat berlalu.

Hari kedua pun dilalui dengan luar biasa....

Iboih, 28 Mar -09, 00.12 Wib

Lokasi Yang Dikunjungi :
Pelabuhan Uleelheue
Pelabuhan Balohan
Kota Atas Sabang
Benteng Jepang Sabang
Sumur Tiga Sabang
Tugu Km 0 Sabang
Pantai Iboih Sabang
Penginapan Iboih Inn

Foto :
Pantai Sumur Tiga Banda Aceh
Senja di Km 0

Hari Pertama : Banda Aceh, aku tiba …


Kisah ini merupakan perjalan Lima hari ku (tanggal 26-30 Maret 2009) yang lalu.

Saat berangkat dari Jakarta, aku baru sadar tripod yang aku pinjam dari Ryan tertinggal dipesawat dari Balikpapan. Sebenarnya sehari sebelumnya aku sempat membatin, untuk tidak membawa tripod itu karena takut ketinggalan. Alasannya sederhana, karena barang itu bukan milik aku, ada kemungkinan akan tertinggal karena lupa untuk menentengnya, biasanya perlu penyesuain agar aku menganggap barang itu selalu ada disekitar aku. Dalam pesawat menuju Medan aku hanya berpikir, mudah-mudahan ini bukan awal yang buruk dalam perjalananku, sambil berusaha mengingat kesalahan apa yang aku telah buat sebelum-sebelumnya sebelum memulai perjalanan ini! (Sorry Ryan, tripodnya ketinggalan, kemarin sudah hubungi Garuda ground staff biar tripodnya ditracking).

Perjalanan ke Medan berjalan lancar, setelah singgah beberapa menit di Medan perjalanan pun dilanjutkan menuju Banda Aceh. Kurang lebih 1 jam (aku tidak ingat pasti) sekitar pukul 16.45 WIB akhirnya pesawat mendarat dengan mulus. Bandara Iskandar Muda ternyata dalam proses renovasi, satu hal yang membuat kagum ternyata Bandara nya bagus. Lebih indah dari Bandara Sepinggan Balikpapan. Dengan bentuk bangunan Kubah yang mencirikan daerah dengan tradisi Islam yang kuat serta runaway yang bagus, rasanya mendarat di negara lain ketika mendarat di Iskandar Muda. Menunggu bagasi beberapa menit kemudian keluar untuk menunggu jemputan seorang kawan lama, mantan pejuang transmisi Kalimantan!

Lebih kurang menunggu 30 menit, akhirnya Pak Syamsul Bahri datang. Beliau kaget dan tidak percaya awalnya ketika sehari sebelumnya aku mengirim surat elektronik mengabarkan rencanaku ke Banda Aceh. Kami bertukar cerita sepanjang perjalanan ke kota yang konon jauhnya belasan kilometer dari Bandara. Setelah berjalan kurang lebih 20 an menit kami sampai di Warung Sop Sumsum Langsa, salah satu lokasi kuliner yang terkenal di Banda Aceh kata beliau. Setelah bersantap sumsum yang benar-benar nikmat itu, kemudian Pak Syamsul membawaku keliling Banda Aceh melewati beberapa landmark kota Banda Aceh, diantaranya Masjid Raya Baiturahman, Kuburan Masal di Ulelhee, Monumen Kapal PLTD yang terdampar ke daratan sejauh 4 Km dari laut dan Pantai Ulelhee asal Tsunami yang sore itu terlihat indah dan menawan. City Tour hari pertama ditutup dengan acara kunjungan ke kedai Kopi yang terkenal di Banda, di Jalan Uleekareng. Dengan di guide oleh boss, antar jemput, keliling kota, makan dan penginapan yang semuanya gratis, suatu awal yang baik sekali di hari pertama, setelah insiden kehilangan tripod diawal perjalanan.

Lokasi Yang Dikunjungi :
Warong Sop Sumsum Langsa
Pantai Uleelheue
Monumen Kapal PLTD
Kedai Kopi Uleekareng

Prologue : Indonesia My Lovely Country (Lirik lagu Panbers)


Lahir dan menghabiskan masa belia di Irian Jaya membuat aku lebih mengenal Indonesia dan keindonesiaan lebih awal dibandingkan sebagian teman-temanku. Ketika rekan-rekan dibagian Indonesia lain membayangkan Indonesia itu luas dari cerita, lagu-lagu dan acara TVRI aku sendiri sudah merasakan bagaiamana jauhnya tempat aku lahir di Irian dan asal kedua orang tua ku di Sumatera, melalui perjalanan yang aku ikuti ketika pulang pada tahun 1978/1979 ataupun memandang Peta dalam pelajaran ketika sekolah dasar dulu.


Keindonesiaan, karena kota yang aku tempati di Papua adalah kota yang benar-benar heterogen. Hampir semua suku dari berbagai pulau besar di Indonesia ada dikotaku. Orang Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali, Maluku dan Irian, sama-sama tinggal disana. Setelah aku sedikit besar baru aku merasakan manfaatnya menggunakan bahasa Indonesia untuk komunitas yang heterogen, itu pun setelah aku mengunjungi beberapa daerah di Sumatera dan (terutama) Jawa dimana aku mendapati banyak orang-orang tua yang sama sekali tidak dapat berbahasa Indonesia. Hal yang jarang ditemui di Irian Jaya mulai daerah pesisir sampai pedalaman, karena semua berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia.


Lahir dan besar di daerah dimana aku menjadi minoritas karena kesukuan dan mayoritas karena agama, membuat aku sejak kecil sudah merasakan bagaimana friksi atau pelecehan sara seperti itu hanya membuat perasaan membenci yang tidak ada manfaatnya. Dari kecil pula aku sadar bahwa persoalan sara itu timbul semata-mata karena kecemburuan ekonomi. Dulu, hal tersebut seingat aku tidak pernah menimbulkan huru-hara karena adanya instrumen pemerintah yang menjaga agar tidak sampai timbul pertikaian. Sayangnya sekarang hal seperti itu kerap menimbulkan jatuhnya korban jiwa :(


Membayangkan luasnya Indonesia, sejak kecil pula ada keinginan apabila dewasa kelak ingin berkunjung kedaerah-daerah lain diantaranya Timor-timor dan Banda Aceh. Kenapa Timor-timor, karena ini adalah daerah yang paling akhir bergabung dengan Indonesia dan masih kuat pengaruh budaya Portugisnya. Budaya, perilaku orang, peninggalan sejarah serta aktivitas penduduknya membuat aku ingin melihat dari dekat wilayah Timtim. Aku juga membayangkan karakteristik orang Timtim seperti orang Irian,dimana sebagian dari penduduknya merasa belum benar-benar menyatu dengan Indonesia, yang membuat aku merasa Timtim seperti Irian kedua. Tetapi sayang kesempatan berkunjung tersebut tidak jadi karena Timtim lebih dahulu memisahkan diri dari Indonesia. Sedangkan Aceh, kenapa aku ingin mengunjunginya tidak lain dan tidak bukan karena ini adalah Provinsi paling Barat di Indonesia! Aku lahir dan besar di Provinsi paling Timur dan aku ingin mengunjungi provinsi paling barat. Ada semacam perasaan didalam hati apabila aku belum mengunjungi Aceh, aku belum mengunjungi seluruh Indonesia. Padahal ada satu pulau besar lagi yang belum aku kunjungi, yaitu Nusa Tenggara, tetapi keinginan untuk melihat Aceh lebih kuat, apalagi ditambah catatan sejarah Bangsa besar ini dan kesepakatan damai yang telah dicapai antara mereka yang memilih Aceh merdeka dan pemerintah Indonesia baru-baru ini membuat keinginan ke sana semakin besar.


Akhirnya kesempatan bisa pergi ke Aceh itu datang, rencana sebenarnya telah diatur sejak dua tahun yang lalu, tetapi karena waktu cuti yang terbatas dan ongkos yang mahal akhirnya baru terealisasi akhir Maret 2009 ini. Aku hanya berpikir bahwa kesempatan kadang datang Cuma sekali. Ketika ada waktu dan mood lagi bagus, kenapa tidak dijalani. Uang dapat dicari, tetapi waktu dan mood kadang tidak bisa di duga datangnya kapan! Indonesia, aku bangga punya tanah air seindah ini!!


[Beberapa anak-anak ketika disuruh menyanyikan lagu dari Sabang sampai Merauke seperti ini :”Dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai Ke Talaud....Indonesia tanah airku, Indomie seleraku........”



Hehehe seharusnya seperti ini:


”Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau.... Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia....Indonesia tanah airku, aku berjani padamu......
Menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia....]

Thursday, May 06, 2010

Gereja Tugu

Gereja Tugu adalah salah satu gereja tertua di Indonesia terletak di Kampung Tugu, Jakarta Utara. Secara pasti tidak diketahui kapan mulai dibangun, tetapi para ahli sejarah menyimpulkan sekitar tahun 1676-1678, yang di bangun oleh ads amelchior Leidecker,setelah beliau masuk ke kampung Tugu pada t...ahun 1675,mendapati sekumpulan masyarakat Kristiani mengadakan kebaktian di rumah-rumah,karena tidak memiliki Gereja sebagai tempat Ibadah, bersamaan dengan dibukanya sebuah sekolah rakyat pertama di Indonesia.

Gereja Tugu yang sekarang berdiri merupakan bangunan yang ketiga setelah bangunan yang pertama 1678 yang dari kayu hancur pada pemberontak Cina (Cina Onlusten) tahun 1740 dan pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia, pada masa Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier yang berkuasa di Batavia pada tahun 1737–1741.

Pada tahun 1737 Gereja Tugu dilakukan renovasi yang pertama dibawah pimpinan pendeta Van De Tydt, dibantu oleh seorang pendeta keturunan Portugis kelahiran Lisabon yaitu Ferreira d'Almeida dan orang-orang Mardijkers.

Kemudian pada tahun 1744 atas bantuan seorang tuan tanah Justinus Vinck gereja ini dibangun kembali, dan baru selesai pada 29 Juli 1747 yang kemudian diresmikan pada tanggal 27 Juli 1748 oleh pendeta J.M. Mohr.
Sebagai catatan,pada tanggal 20 Agustus 1746,Tuan Justinus Vinc menghadap Notaris di Batavia,beliau dalam testamennya menghibahkan Gedung Gereja berikut sawah-sawah (untuk membiayai Gereja dan Pendeta) serta uang sebesar 1200 Riggit kepada komunitas Tugu,hal ini di kenal dengan Testamen Justinus Vinc.

Sampai saat ini gereja tersebut masih berdiri dan berfungsi sebagai "GPIB Tugu", walaupun diberbagai sudut sudah banyak yang harus diperbaiki karena factor usia, gereja ini tampak sederhana tetapi tampak kokoh dan rapi, dengan berisi bangku diakon antik, piring-piring logam, dan mimbar tua, sedangkan lonceng yang ada di gereja tersebut diperkirakan dipugar pada tahun 1880,yang mana sebelumnya menaranya terbuat dari kayu,adapun loncengnya sendiri lebih tua 9 tahun,karena berasal dari Gereja yang terbakar, karena lonceng paling tua yang dibuat 1747 sudah rusak dan disimpan disalah seorang rumah pendeta disana.

Pemugaran
Karena usia bangunan yang tua dan dipandang perlu melakukan beberapa perbaikan atas usul masyarakat Tugu, pemerintah DKI membantu melakukan pemugaran sejak bulan Oktober 2009 silam dan selesai dipugar setelah Natal atau akhir Desember di tahun yang sama. Namun sayangnya pemugaran dilakukan secara sembarangan sehingga struktur bangunan tidak lagi mencerminkan bangunan asli.

Pengurus gereja menyatakan kontraktor tidak memiliki konsep matang mengenai struktur asli bangunan. Hal-hal yang harus dipugar ini sebetulnya telah dituangkan dalam proposal dari IKBT sehingga kontraktor dalam hal ini tidak bisa terlalu banyak disalahkan karena hanya bertindak sebagai eksekutor.

Terlepas dari hal itu, pihak gereja menilai setidaknya terdapat tiga kejanggalan yang merusak struktur asli bangunan. Pertama, kanopi di teras depan seharusnya menempel dengan dasar atap. Namun kenyataannya kanopi berada sekitar satu meter di bawahnya.

Kedua, pinggiran atap kurang lebar 2 meter sehingga dindingnya rawan terkena air dan lembab sehingga mudah jamuran. Ketiga, pendingin ruangan atau AC kurang fleksibel alias tidak bisa dipindah-pindah seperti dahulu.

Selain itu, warna cat juga sempat dipermasalahkan. Pasalnya, kontraktor mengecat dinding luar dengan warna yang tidak sama alias belang-belang sehingga terlihat kusam. Total biaya pemugaran ini sendiri diperkirakan sekitar Rp 430 an juta.

Pada tanggal 30 April 2010 lalu, aku sempatkan diri untuk mengambil beberapa gambar gereja tua di Jakarta. Salah satu rencanaku jangka menengah adalah mendokumentasikan Gereja-gereja tua yang dibangun oleh Belanda atau Portugis di seluruh Indonesia. Kalau rekan iseng menggoogling dengan kata kunci Gereja Tua di Indonesia, maka saudara akan dipandu ke Wikipedia yang minim sekali gambar bangunannya dan penjelasannya. Padahal itu merupakan aset bangsa (terlepas bagi umat non Kristen) yang harus dilestarikan.

Niat membangun database Gereja di internet dipicu oleh kesedihan ku atas dihancurkannya Gereja tua di desa Hila yang telah berusia 450 tahun. Kebetulan pada awal tahun 1998 aku memiliki kesempatan mengunjungi Gereja itu, tetapi ketika terjadi kerusuhan di Ambon, bangunan tersebut dimusnahkan oleh sekolompok orang yang tidak bertanggung jawab. Aku hanya berpikir, sayang sekali bangunan yang sarat sejarah itu dihancurkan, padahal dia tidak punya salah apa-apa dan yang terpenting bagi umatnya, bangunan itu adalah rumah Tuhan.

Berikut sebagian gambarnya :




Monday, September 28, 2009

Lebaran Ya Lebaran....1430 H


Selalu ada waktu untuk memaafkan selama masih hidup karena senantiasa ada ruang untuk berbuat kesalahan

Monday, April 13, 2009

Persahabatan


Aku terakhir ketemu ketemu Ben tahun 1988, tamat SMP Negeri 1 Nabire, aku berangkat ke Medan, pisah dengan dia dan teman2 habis itu tidak ada kabar lagi. Terakhir komunikasi kalo tidak salah karena friendster atau karena nomornya di kasih Lina, yang jelas kurang lebih 2-3 tahun lalu pernah sms-an habis itu karena kesibukan tidak pernah ada kabar lagi, nomor telepon hilang dan kurang lebih 1-2 bulan ini tong menjalin komunikasi lagi hanya internet. Dan hari ini (22 Maret 09), akhirnya sa bisa ketemu Ben dan Istri sesudah kurang lebih tidak ketemu selama 21 tahun !!.


Kurang lebih, 3 minggu yang lalu juga aku dapat sms dari kawan lama yang sama-sama sudah tidak ketemu dan komunikasi sejak tahun 1988!! Dia dapat nomor telepon ku dari bapak yang ketemu di Jayapura pas bapak lagi mengurus administrasi pensionnya. Akhirnya kami ngobrol lama, tapi karena pas jam kantor dan Raji juga harus berangkat kerja, akhirnya kami berdua janjian dikemudian hari akan saling telpon lagi…


Pas tahun lalu juga begitu, waktu antar mace naik kapal di Makassar untuk pulang ke Nbx, waktu masuk ke kapal ada yang teriak panggil marga aku. Lama ku perhatikan de pu wajah, tidak ingat sama sekali, habis pace de pu badan su bokar baru badan juga kayak kura-kura ninja begitu jadi. Untung sa masih ingat de pu ketawa, ternyata pace Derek Waromi yang sekarang tugas di Mulia. Tong tukar-tukar nomor telepon dan akhirnya sempat beberapa kali sms an.


Waktu di Bandung, sekitar tahun 1993-1994 pas acara pertandingan olahraga hiking antara Kampus, sa tidak sengaja ketemu Irwan Susanto dan Dani Bastian. Yang bikin sa tidak enak hati, sa lupa sama sekali sama Dani. Kalo Irwan Susanto sa masih ingat mati, karena dia den Hendrik Sawias yang ajar-ajar sa main gitar. Tong ngobrol sebentar karena mau tanding akhirnya tong pisah, de dari tim STPDN dan sa dari kami pu Kampus.....


Setelah itu ketemu Beni Erari di Bandung, Etty dan Abdul Jalil pas jalan2 ke Jayapura, pas pulang ke Nbx yang pertama tahun 1998 masih ketemu Agus Salim, Novi, Hendrik Sawias, Budi, Lina,Said, Lukas Yembise dll....


Satu hal yang kerasa sekarang ini, waktu rasanya berlalu cepat sekali, semua seperti baru kemarin. Beberapa teman sudah menghadap tete manis (YMK) : Yunus Konyora, Agus Salim,Irwan Susanto. Tidak terasa usia sudah menjelang 40 tahun. Abdul Raji anaknya sudah SMA, sebentar lagi mungkin su punya cucu. Beberapa anak teman2 sudah SD dan sebentar lagi SMP...


Dalam pembicaraan dengan beberapa teman, kami sepakat bahwa pengalaman semasa SMP di Nabire 1985-1988 merupakan pengalaman terbaik kami ketika sekolah. Guru-gurunya, persahabatannya, romantikanya, cinta monyetnya, kegiatan ekskulnya dan atmosfir Nabirenya. Pada akhirnya semuanya akan berakhir, semua akan berpisah, dan masing-masing membawa sesuatu yang tidak akan bisa diambil : kenangan !


[Dixie Leonard(Bette Midler) dalam film for the boys, menyanyikan lagu ini dihadapat para prajurit yang lagi berperang. Dalam film, lagu ini didedikasikan kepada para prajurit yang meninggal karena perang... sejak saat itu, apabila aku mendengar lagu ini, yang terbayang adalah rekan-rekan yang telah meninggal......]


"In My Life"

(By Beatles)

There are places i'll remember

All my life though some have changed

Some forever not for better

Some have gone and some remain

All these places have their moments

With lovers and friends i still can recall

Some are dead and some are living

In my life i've loved them all

But of all these friends and lovers

There is no one compares with you

And these memories lose their meaning

When i think of love as something new

Though i know i'll never lose affection

For people and things that went before

I know i'll often stop and think about them

In my life i love you more

Though i know i'll never lose affection

For people and things that went before

I know i'll often stop and think about them

In my life i love you more

In my life i love you more




Tuesday, March 10, 2009

Koran Radar Tarakan Tgl 6 Maret 2009

Ini kali kedua berbicara di Kampus, yang pertama di Unmul Samarinda dan yang kedua di Universitas Borneo Tarakan. Karena kota Tarakan kecil, acara yang diikuti oleh lebih 150 Mahasiswa,dosen,siswa SMA dan beberapa Guru TIK ini pun di liput Koran Lokal, Radar Tarakan dan RRI Tarakan. Lumayan bisa ikutan mejeng di Koran meski namanya salah tulis....







Portal kantor

Monday, March 09, 2009

Melihat Lebih Jauh


Artikel ini saya kutip ulang dari Koran Kompas (tanggalnya saya lupa) tulisan Herry Tjahyono seorang Corporate Culture Therapist. Agak panjang tapi tidak terlalu berat untuk dibaca, cuma buat saya pribadi menarik untuk dibaca dan ditiru. Buat yang pernah membaca ini sekedar mengingatkan kembali dan buat yang belum membaca, ini bisa menjadi masukan buat rekan-rekan. Selamat Membaca

______________________________________________________________________________________


Ada dua kisah nyata inspiratif yang akan saya adaptasi. Pertama tentang seorang tukang pipa (plumber). Alkisah, Bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman sedang pusing karena pipa keran airnya bocor, ia takut anaknya yang masih kecil terjatuh.

Setelah bertanya ke sana ke mari, ditemukan seorang tukang terbaik. Melalui pembicaraan telepon, sang tukang menjanjikan dua hari lagi untuk memperbaiki pipa keran sang bos. Esoknya, sang tukang justru menelpon sang bos dan mengucapkan terima kasih. Sang bos sedikit bingung. Sang tukang menjelaskan,ia berterima kasih sebab sang bos telah mau memakai jasanya dan bersedia menunggunya sehari lagi.

Pada hari yang ditentukan, sang tukang bekerja dan bereslah tugasnya, lalu menerima upah. Dua minggu kemudian, sang tukang kembali menelpon sang bos dan menanyakan apakah keran pipa airnya beres. Namun, ia juga kembali mengucapkan terima kasih atas kesediaan sang bos memakai jasanya. Sebagai catatan, sang tukang tidak tahu bahwa kliennya itu adalah bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman.

Cerita belum tamat. Sang bos demikian terkesan dengan sang tukang dan akhirnya merekrutnya. Tukang itu bernama Chris-topher L Jr dan kini menjabat GM Customer Satisfaction & Public Relation Mercedes Benz.

Dalam sebuah wawancara,Christopher menjawab, ia melakukan semua itu bukan sekedar tuntutan after sales service atas jasanya sebagai plumber. Jauh lebih penting, ia selalu yakin tugas utamanya bukanlah memperbaiki pipa bocor, tetapi keselamatan dan kenyamanan orang yang memakai jasanya. Christopher melihat lebih jauh dari tugasnya.
Kisah Lain

Ada juga kisah dari teman saya, James Gwee, tentang Mr Lim yang sudah tua dan bekerja “hanya” sebagai door cheker (memeriksa engsel pintu kamar hotel) di sebuah hotel berbintang lima di Singapura. Puluhan tahun ia jalankan pekerjaan membosankan itu dengan sungguh sungguh, tekun, dan sebaik-baiknya.

Ketika ditanya apakah ia tak bosan dengan pekerjaan menjemukan itu, Mr Lim mengatakan, yang bertanya adalah orang yang tidak mengerti tugasnya. Bagi Mr Lim, tugas utamanya bukanlah memeriksa engsel pintu, tetapi memastikan keselamatan dan menjaga nyawa para tamu.

Dijelaskan, mayoritas tamu hotelnya adalah manajer senior dan top manajemen. Jika terjadi kebakaran dan ada engsel pintu yang macet, nyawa seorang manajer senior taruhannya. Jika ia meninggal, sebagai decision maker, perusahaannya akan menderita. Jika perusahaannya menderita dan misalnya bangkrut,sekian ribu karyawannya akan menderita. Belum lagi keluarganya,termasuk anak istri manajer itu. Demikian jauh pandangan Mr Lim, dan ia bukan sekedar door cheker.

Beberapa pelajaran

Christopher L Jr dan Mr Lim relatif sejenis. Keduannya bukan kelas manusia sejenis. Keduanya bukan kelas manusia sedang atau biasa (good people). Mereka jenis”manusia besar atau manusia berlebih”(great people) meski jabatan atau pekerjaan formal disuatu saat demikian “rendah dan biasa saja”. Sikap mental mereka jauh lebih tinggi dari jabatan dan pekerjaan formalnya.

Dua kisah itu memberikan beberapa pelajaran berharga.

1. Pertama, untuk menjadi manusia besar tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis seseorang mengerjakan tugasnya. Kemampuan dan kompetensi teknis (hard competence) boleh sama atau biasa saja, tetapi sikap mental atau soft competence yang lebih akan menentukan seseorang menjadi manusia besar atau tidak.

2. Kedua untuk bisa mempunyai soft competence dimaksud, kita perlu berontak dan bangun dari tidur panjang selama ini, keluar dari zona nyaman. Sebagai manusia minimalis, pekerja atau pemimpin apa adanya (yang penting job description dijalankan), target kerja atau key performance indicator (KPI) tercapai, beres! Itulah tipikal manusia biasa saja. Upaya ini memerlukan pengorbanan diri sebab hanya dengan menjadi good people seperti selama ini saja, toh tak ada yang mengusik kita,tetap bisa bekerja dengan nyaman ,dan seterusnya. Maka, pemberontakan untuk bebas dari kondisi good people itu harus dari diri sendiri dulu. Ingat petuah Jim Collins, good is the enemy of great.

3. Ketiga, langkah lebih konkret selanjutnya adalah sikap mental untuk ”melihat lebih”! Christopher L Jr plumber yang ingin memastikan kliennya nyaman dan selamat. Mr Lim door cheker yang ingin menjamin tamu hotelnya terjaga nyawanya dari bahaya kebakaran. Melihat lebih jauh, beyond the job!

4. Keempat, setelah mampu melihat lebih, barulah kita mampu “memberi lebih” (giving more). Hanya dengan melihat lebih dan memberi lebih, kita mampu menjadi manusia besar yang tidak hanya bekerja sebatas KPI. Kita akan mampu bekerja dengan memberikan key values indicator (KVI), nilai nilai lebih, mulia, unggul, berguna bagi setiap pengguna atau penikmat hasil kerja kita. Itulah Christopher L Jr dan Mr Lim.

Rindu Pemimpin besar

Para pemimpin dan bahkan kita semua demikian bangga dan terpesona sendiri saat mampu memenuhi ”KPI kehidupan” kita masing-masing, yang biasanya memang bersifat kuantitatif, materill, dan mudah diukur.

Padahal untuk menjadi great people,great leader, great father, great manager, dan seterusnya , lebih diperlukan kemampuan mempersembahkan ”KVI kehidupan” kita, yang biasanya justru tidak mudah diukur. Bangsa ini sangat memerlukan Christopher L Jr dan Mr Lim sebanyak mungkin dan sesegera mungkin.

Sebagai catatan akhir, seorang office boy yang mampu mempersembahkan KVI nilainya takkalah dengan seorang CEO yang hanya memberikan KPI-nya. Jika kita ”mau” melihat lebih jauh, kita akan ”mampu” melangkah lebih jauh.
_____________________________________________________________________________________

Wednesday, March 04, 2009

And The Oscar Goes to (cmiiw) The Curious Case of Benjamin Button !


[Catatan ini dibuat sebelum pengumuman Oscar, meski Slumdog Millionere akhirnya meraih Oscar, buat aku film ini lebih complex dan lebih indah]


Mungkin karena script film ini dibuat oleh Eric Roth sehingga film yang berasal dari cerita pendek F. Scott Fitzgerald menjadi film yang enak ditonton. Eric sebelumnya telah menulis scrip film-film bagus seperti : Munich, Ali, Forest Gump, sehingga tidak heran The Curious Case of Benjamin Button (TCCoBB) pun enak untuk ditonton.


Awalnya seperti menyaksikan ulang film English Patient, pesakitan yang terbaring dengan didampingi seorang wanita dengan alur cerita flashback. Cerita diawali dengan pembuat jam yang kehilangan anaknya dalam peperangan yang dengan perasaan sedih membuat jam yang diletakkan distasiun kereta api. Pada saat itu kereta api adalah transportasi utama, yang menarik dari jam itu, arah putarnya berlawanan arah dengan jam sebenarnya, kemudian cerita berlanjut dengan kelahiran seorang bayi , yang dibuang oleh ayahnya karena memiliki penampilan fisik seperti orang berusia 80 tahun.


Dalam kehidupan nyata kita kadang (tidak sering) bertemu orang yang meski berusia muda tetapi memiliki pemikiran dan kematangan emosi seperti orang dewasa. Tetapi kita lebih sering ketemu dengan orang berusia tua tetapi memiliki pemikiran dan kematangan emosi seperti anak-anak. Cerita TCCoBB, berkisah tentang kehidupan Benjamin yang berjalan dengan waktu yang terbalik. Pada saat orang normal secara fisik dan emosi menjadi lebih tua seiring bertambahnya usia, Benjamin mengalami kejadian yang sebaliknya. Terlahir dengan penampilan fisik seperti orang berusia 80 tahun,masa remaja dengan penampilan fisik seperti orang dengan usia 60 an tahun, mengalami indahnya kehidupan rumah tangga seperti orang berusia 40 tahun dan meninggal dengan tubuh bayi dalam pangkuan wanita yang pernah mencintainya yang telah berusia 80 tahun. Pertanyaannya, apa yang akan kamu lakukan apabila kamu bertemu dan jatuh cinta dengan orang yang memiliki kelaianan seperti ini ? Seiring dengan waktu kamu bertambah tua, sementara orang yang kamu cintai bertambah muda…


Film ini adalah film epic romance Benjamin Button yang berisi kesedihan. Sedih karena meski bertemu dengan orang yang dikasihi pada saat yang tepat, tetapi dengan kesadaran akan kondisi yang tidak memungkin sehingga mereka memutuskan berpisah demi masa depan anak yang mereka sayangi. Salah satu bagian yang menyedihkan ketika Benjamin memutuskan meninggalkan Alice dan anak mereka disuatu malam, meski Ben sangat mencintai keluarganya. Ketika Ben berkemas, Alice terbangun, mereka saling bertatapan. Ada kesedihan dalam tatapan itu, Ben lalu melangkah keluar kamar dan Alice hanya bisa menatap tanpa berkata-kata sepatah katapun.


Mengasyikkan menyaksikan film ini ! Akting yang bagus dari hampir semua pemainnya (Cate, Brad, Tilda, Taraji P. Henson,dll),pengambilan gambar yang bagus, cerita yang tidak biasa dengan alur yang menarik sehingga durasi 160 menit tidak terasa lama, special efek yang luar biasa sehingga Brad Pitt bisa terlihat tua dengan tubuh kecil diawal cerita dan menjelang akhir Brad Pitt tampil dengan wajah remaja, sulit untuk mengatakan TCCoBB tidak mendapat Oscar untuk Film Terbaik tahun ini. Saingannya mungkin Slumdog (dengan setting cerita yang lebih real), tetapi secara keseluruhan aku lebih memilih TCCoBB sebagai film terbaik…


Ketika menyaksikan Film ini, sepertinya benar perkataan Alexkolokotronis dari Queens, New York, “….Sebaiknya kita mensyukuri apa yang kita punya ketimbang berandai-andai…”


Benjamin Button:

It's a funny thing about comin' home. Looks the same, smells the same, feels the same. You'll realize what's changed is you.


Benjamin Button: [Voice over; letter to his daughter]

For what it's worth: it's never too late or, in my case, too early to be whoever you want to be. There's no time limit, stop whenever you want. You can change or stay the same, there are no rules to this thing. We can make the best or the worst of it. I hope you make the best of it. And I hope you see things that startle you. I hope you feel things you never felt before. I hope you meet people with a different point of view. I hope you live a life you're proud of. If you find that you're not, I hope you have the strength to start all over again.


Benjamin Button:

Some people, were born to sit by a river. Some get struck by lightning. Some have an ear for music. Some are artists. Some swim. Some know buttons. Some know Shakespeare. Some are mothers. And some people, dance.


Wednesday, December 24, 2008

Natal Di Dusun Kecil

Pondok Natal

Jalan Pemuda Saat Natal

Gereja Tabernakel

Kapan persisnya aku tidak tahu, yang jelas ketika aku meninggalkan Irian Jaya pada tahun 1988 tradisi mendirikan pondok menjelang Natal ini belum ada. Pondok yang dibangun biasanya dalam bentuk rumah panggung, beratap kan seng dan ditutupi oleh papan atau rumbia setinggi 50 an cm untuk menahan tempias air ketika hujan. Memasuki bulan Desember setiap RT atau bahkan kadang-kadang setiap beberapa rumah berlomba membuat pondok Natal ini.
Jadi ketika Natal tiba di Irian (aku lebih suka menggunakan kata ini daripada Papua), dari utara sampai selatan : Sorong, Manokwari, Jayapura, Merauke, Fakfak, Pondok Natal ini sudah menjadi tradisi. Yang menarik dari pondok ini, selain menjadi tempat nongkrongnya anak muda, selalu ada speaker dan tape-tape dengan power yang besar yang dipasang. Tetangga pasti maklum, bulan Desember orang bebas memasang speaker sekeras-kerasnya pada hari Natal. Bayangkan jam 3 subuh, tape di stell poll kuat-kuat !! Kalau sakit gigi dan belum biasa dengan tradisi ini pasti akan kesel setengah mati. Tapi ini tradisi Irian pada perayaan Natal, sebaiknya yang waras mengalah ! Kalau berani menegur mereka, yang ada rumah kita akan dilempar batu, atau dihardik oleh mereka.
Terus terang aku sangat menikmatinya, ini yang membuat suasana Natal benar-benar terasa. Irian yang mayoritas masyarakat aslinya Kristen menjadi semarak pada saat perasaan Natal. Dihampir setiap rumah terpasang pohon Natal dan tulisan Merry Christmas and Happy New Year. Gereja dihias dengan kertas warna-warni dan balon-balon. Luar biasa memang !
Tapi satu hal yang terasa saat ini, Natal menjadi semacam seremonial belaka dan semarak hanya sesaat untuk kemudian dilupakan. Orang semakin sedikit terlibat dalam kegiatan menyambut Natal, semuanya melakukan hal-hal yang praktis. Jika dulu seminggu sebelum Natal orang sudah siap-siap membuat kue, dua minggu sebelumnya orang sudah memulai mengirim kartu Natal, sebulan atau dua bulan sebelumnya sudah memulai latihan digereja untuk perayaan Natal, saat ini hal itu menjadi jarang. Orang semakin sibuk dengan kegiatan sehari-harinya. Kegiatan diatas sudah tidak praktis lagi, mendingan membeli kue kering, mengganti kartu Natal dengan sms dan acara drama Natal ataupun koor pada saat Natal sudah dianggap tidak praktis dan hanya menyita waktu. Pun semarak rumah tidak seperti dulu lagi. Hanya Pohon Natal yang dipasang dirumah, sementara pada masa lalu lampu-lampu Natal yang kelap-kelip dipasang sampai keluar rumah. Dan yang jelas tidak seperti ditahun 90 an dan 2000 awal, saat ini pondok Natal semakin sedikit dibangun.
Mungkin dalam tradisi Pondok Natal di Irian, lagu yang paling sering dipasang adalah lagu Charles Hutagalung yang berjudul Natal di Dusun Kecil, Dimanapun lagu ini kudengar selalu mengingatkan aku akan Nabire, mungkin ini lagu Natal terbaik sesudah lagu-lagu dalam buku nyanyian Kristen.

Natal yang paling indah selalu dalam kenangan… berikut lirik lagu Natal di Dusun :
Jauh di dusun yang kecil disitu rumahku
lama sudah ku tinggalkan aku rindu..
Tahun tahun tlah berlalu menambah rinduku
Nantikan kedatanganku dusunku
kuingin mengulang lagi
kenangan masa kecilku
kenangan hari natal yg bahagia
Kunyalakan lilin lilin
kunyalakan lenteraku
kenangan natal didusun yang kecil
lama sudah kutinggalkan
tempat kelahiranku
teringat sanak saudara
teman




Merry Christmas hon....!

Tuesday, December 23, 2008

Dan Akhirnya Mereka pun Menikah

Aries dan Fany


Ian dan Yuli


Mona dan Binto

Dan akhirnya sebagian orang akan sampai pada titik itu, pernikahan ! Dengan segala keajaibannya membuat sebuah komitmen didepan pemuka agama dalam sebuah ibadah yang terkadang penuh haru dan menegangkan bagi yang terlibat dalam peristiwa itu. Sebagian dari mereka kemudian mengalami keajaiban yang lain, memiliki anak dan membesarkannya dengan penuh tanggung jawab dan sebagian dari mereka kemudian mengalami keajaiban yang lain, sang anak berhasil dalam pendidikan dan mendapat pekerjaan yang baik. Lalu keajaiban yang lain datang, sang anak pun menikah, kemudian keajaiban berikutnya datang, si anak mendapat anak, si orang tua mendapat cucu, tongkat estafet kehidupan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Pernikahan memang penuh misteri, sama seperti kelahiran dan kematian. Kita tidak tahu dari awal kita akan menikah dengan siapa. Ada hubungan yang awalnya berjalan dengan sempurna, kedua pasangan mendapat restu dari orang tua dan masyarakat yang ternyata dipertengahan cerita (akhir cerita adalah kematian) tidak jadi menikah. Ada pula yang awalnya saling tidak menyukai dan terang-terangan membenci satu sama lain awalnya serta tidak mendapat dukungan keluarga, diakhir cerita menikah dan hidup berbahagia.

Mona, sebagian lika liku hubungannya dengan teman dekatnya aku tahu. Siapa yang menyangka akan menikah dengan Binto. Mona, anak baik yang selalu dekat dengan cowok bukan batak di pertengahan cerita nya memutuskan menikah dengan sang jagoan Batak dari Denpasar. Pesta nya berjalan dengan meriah, baik di kota Balikpapan atau pun kota Denpasar. Luar biasa

Ian, sepanjang aku kenal selama kurang lebih dua tahun selalu berusaha mencoba mencari pasangan yang sepadan dengan bergonta ganti cewek, akhirnya mendapat pasangan yang menurut aku sepadan, Yuli ! Siapa sangka bocah yang suka cengengesan ini bisa mendapat anak Jendral ?

Aries, yang memulai perkenalan dengan menggunakan media friendster yang dalam waktu kurang dari 2 tahun akhirnya mengambil keputusan yang tepat dengan menikahi Fani, neng geulis dari Bogor !

Rasa-rasanya baru kemarin mereka berkenalan dengan pasangannya.... sekarang mereka sudah memutuskan untuk mengalami keajaiban bersama dalam satu babak kehidupan yang bernama rumah tangga! Semoga kedepan mereka tetap mengalami keajaiban-keajaiban yang lain dalam hubungan yang dinamakan suami-istri.

Buat : Mona, Ian dan Aries,

Selamat menjalani hidup baru, teruslah mencintai pasangan kalian karena hidup ini terlalu singkat untuk dijalani. Ciptakanlah berjuta kebahagiaan dalam rumah tangga kalian agar kalian terus mengalami keajaiban-keajaiban….